Tombak Kyai Muntab Mengakhiri Perseteruan Wanapawira dengan Puspawilaga

oleh -
Harjana di depan tanah kediaman Demang Wanapawira Piyaman. KH/Kandar.
iklan golkar idup fitri

Dianggap sok jago, Damar ditantang duel oleh Puspawilaga. Sengaja Puspawilaga memang berniat menakar kesaktian Damar, nama kecil Wanapawira. Terjadilah perkelahian. Namun, mengetahui hal itu tidaklah begitu penting, rombongan Damar melerai perkelahian, dan mengajak meneruskan perjalanan pulang ke Piyaman.

Sebelum rombongan yang berjumlah tujuh orang tersebut meneruskan perjalanan, sebagai tanda pengingat peristiwa tersebut, Damar sempat memberikan nama di wilayah itu. Karena kebetulan nama pohon untuk mengikatkan tali Kyai Dawuk kuda tunggangan Damar adalah pohon Sambi, sedangkan rombongan berjumlah tujuh, maka tempat itu diberilah nama Sambipitu.

Singkat cerita, Puspawilaga menjadi semakin iri karena keberhasilan Wanapawira membuka hutan dan menyusul didirikannya pusat pemerintahan kemudian diikuti pembukaan pasar dan tempat peribadatan.

Pasar tersebut dibuka di wilayah Seneng. Suatu ketika Roro Sudarmi putri Panji Harjadipura Semanu berkunjung ke pasar kemudian diketahui oleh Rangga Puspawilaga yang lantas jatuh hati.

Rangga Puspawilaga berniat melamar. Karena banyak pria yang melamar termasuk juga Demang Wanapawira, maka diadakanlah sayembara memanah babal (nangka muda). Wanapawira berhasil memenangkan sayembara kemudian mempersunting Rara Sudarmi.

Kemarahan Puspawilaga berlanjut, dirinya meminta bantuan tokoh hingga wilayah Bantul untuk membunuh Wanapawira. Maka, terjadilah peperangan antara pihak Rangga Puspawilaga dan pihak Demang Wanapawira, sampai kemudian berujung kematian Puspawilaga terkena tombak Kyai Muntab.

Hingga kini, tombak tersebut masih disimpan Harjana di rumahnya di Padukuhan Piyaman I Desa Piyaman Kecamatan Wonosari. Adapun rRumah yang pernah menjadi kediaman Demang Wanapawira telah banyak mengalami perubahan karena direhab dan berbagai perubahan lainnya.

Menurut Harjana, anak turun Wanapawira telah beranak-pinak dan tersebar di berbagai tempat. Hingga saat ini untuk mengikat tali persaudaraan masih dilestarikan tradisi Syawalan trah Demang Wanapawira. Setiap kali dilaksanakan tak kurang dari 800-an anggota trah berkumpul. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar