Tawiyem, Nenek Pemulung Sebatang Kara Ini Alami Patah Tulang

oleh -
Kondisi rumah Tawiyem yang reot tak layak huni. insert: Tawiyem tangannya di gips. KH
iklan dispar
Kondisi rumah Tawiyem yang reot tak layak huni. insert: Tawiyem tangannya di gips. KH
Kondisi rumah Tawiyem yang reot tak layak huni. insert: Tawiyem tangannya di gips. KH

SEMIN, (KH)— Setumpuk cobaan berat coba ia lawan. Tawiyem (85), warga Candirejo Semin Gunungkidul ini puluhan tahun menjalani hidup sebatang kara di rumah reot. Dalam usianya yang sudah lanjut, tak banyak pekerjaan yang dapat ia lakukan untuk menghasilkan biaya penopang hidup.

Di tengah keterbatasan fisiknya yang makin melemah karena usia, ia terus berusaha untuk tidak bergantung pada orang lain. Setiap hari ia mengais sampah dan barang bekas untuk dijual lagi. Demikian tetangga sekitar mengenal kegiatan keseharian simbah yang sejak lama tak diketahui di mana keberadaan keluarganya atau saudaranya ini.

Di rumah tua buatan tetangga sekitar itu ia tinggal. Bahkan, rumah berdinding bambu yang rusak di beberapa bagian ini ternyata juga tidak berdiri di atas tanah miliknya sendiri. Akhir-akhir ini tetangga sibuk memberikan perhatian penuh kepada Tawiyem, karena ia baru saja terpeleset sehingga tulang tangannya patah.

“Sudah biasa mencari barang bekas lalu dijual ke pasar. Beberapa hari yang lalu terpeleset, tulang tangannya patah,” kata Gendro, salah satu tetangga, Sabtu, (26/11/2016).

Karena tak memiliki saudara dan keluarga, tetangga atau warga sekitar sepakat berinisiatif membawanya berobat ke dokter ortopedi di daerah Sukoharjo Jawa Tengah. Konsekuensinya, ada biaya-biaya yang harus ditanggung.

Gendro mengutarakan, rasa iba dan belas kasihan muncul dari warga sekitar, utamanya tetangga terdekat. Meski ia memiliki jaminan kesehatan BPJS, namun guna menopang biaya-biaya operasional non medis lainnya yang tidak sedikit, beberapa tetangga rela menjual perhiasan dan membuka tabungan demi pengobatan Mbah Tawiyem.

“Habis sekitar Rp 750 ribuan. Saat ini, praktis kebutuhan makan ia tak dapat mencari sendiri. Lagi-lagi untuk kebutuhan pokok makan sehari-hari mengandalkan pemberian tetangga,” imbuh Gendro.

Lebih lanjut diutarakan, sewaktu mengupayakan pengobatan, permasalahan demi permasalahan yang ditemui oleh warga sekitar dipecahkan bersama. Gendro mencontohkan, apabila harus opname, maka dilakukan musyawarah kecil, siapa yang akan menunggui di rumah sakit, kemudian juga mengenai bagaimana merawat ketika Tawiyem berada di rumah dan sebagainya.

Dari sisi pembiayaan, segala keperluan tergolong berat. Lagi pula tetangga sekitar merupakan keluarga menengah ke bawah. Warga sekitar berharap ada yang bersedia memberi uluran tangan untuk kebutuhan pokok Mbah Tawiyem.

“Sementara ini tangan Mbah Tawiyem di-gips sambil menunggu langkah lanjutan. Semoga ada pihak yang bersedia memberikan pertolongan,” harap Gendro. (Kandar)

Komentar

Komentar