Tari Klasik dan Garapan Bakal Warnai Pentas Njemparing Rasa

oleh -
iklan dispar

YOGYAKARTA,(KH).– Mendekati tanggal 12 Oktober, persiapan pementasan drama kolosal Sumantri-Sukrasana Njemparing Rasa, Menarik Busur Sejarah Membidik Masa Depan semakin intensif dilakukan. Latihan para aktor, musik, dan tari yang awalnya dilakukan secara terpisah, kini sudah mulai digabungkan. Salah satu yang menarik adalah dari tim tari.
Ketika ditemui di sela-sela latihan, Surono, selaku penata tari mengungkapkan, bahwa konsep tari yang diusung dalam pementasan kali ini adalah penggabungan antara tari klasik dan garapan. Maksud garapan di sini adalah menggunakan beberapa properti, misalnya bendera, tongkat, atau yang lainnya.
“Tim tari terdiri atas 40 orang. Mereka dibagi dalam adegan raja, prajurit satu, prajurit dua, begaya, putri taman, dan putri njemparing,” ujarnya.
Para penari yang berasal dari berbagai latar belakang ini telah melakukan latihan sebanyak lima kali. Setelah itu, baru bergabung dengan yang lainnya.
“Mereka ada yang mahasiswa, ada juga seniman murni. Waktu untuk menggarap adalah tiga minggu, kemudian sharing kepada teman-teman. Sekarang sudah 75 persen fix. Tinggal menggabungkan dengan iringan dan multimedia. Kalau dengan aktor, kami sudah cukup sering latihan bersama,” kata laki-laki yang sedang menempuh studi di ISI jurusan karawitan ini.
Selain itu, Surono juga mengungkapkan bahwa salah satu aktor, yakni Citrawati, harus melakukan tarian dalam sebuah adegan. Namun karena latar belakang aktor ini bukan penari, Surono memberikan gerakan yang simple.
Hingga saat ini, latihan terus dilakukan. Harapannya, pentas drama kolosal yang akan diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan DIY bekerja sama dengan PKKH UGM (Purnabudaya) tersebut dapat mengangkat keistimewaan Yogyakarta sebagai pijakan pembangunan karakter bangsa. Pementasan ini akan digelar di Lapangan Grha Sabha Pramana UGM Yogyakarta pada Minggu (12/10) pukul 19.30 WIB. (Berita kiriman dari: Utami Pratiwi/Rado. Ed: Jjw).

Komentar

Komentar