Supriyati, Atlet Catur Tuna Netra Gunungkidul yang Dimintai Do’a Putri Ariani Sebelum ke AGT

oleh -5764 Dilihat
oleh
Putri ariani
Supriyati, atlet catur tuna netra asal Saptosari, Gunungkidul. (KH)

GUNUNGKIDUL, (KH),— Jagat dunia maya baru-baru ini heboh atas keberhasilan Putri Ariani yang lolos ke semifinal America’s Got Talent (AGT) usai mendapat golden buzzer.

Banyak yang terharu dengan keberhasilan siswa Sekolah Menengah Musik (SMM) Bantul, Yogyakarta ini. Di tengah keterbatasannya, Putri mampu menunjukkan kualitasnya di dunia tarik suara.

Usai tampil dan peroleh tiket khusus di ajang AGT, dunia seakan mengelukannya. Tak terkecuali Supriyati, penyandang tuna netra asal Saptosari, Gunungkidul.

Supriyati saat ditemui di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) 2 Gunungkidul, Playen, beberapa waktu lalu, mengaku turut bangga dengan keberhasilan temannya.

“Kebetulan teman, saat mau berangkat audisi sempat meminta do’a. Saat berhasil memperoleh golden buzzer juga mengabari sambil menangis,” kata Supriyati.

Dia bercerita, pertemuannya pertama kali dengan Putri terjadi di sekolah Putri. Setelahnya mereka tetap menjalin komunikasi.

Sebagai penyandang difabel, Supriyati tak kalah bersemangat dengan Putri. Buktinya, dia saat ini kuliah dengan biaya sendiri.

Sejumlah kegiatan ia lakukan, antara lain menjadi atlet catur. Bahkan prestasinya tak bisa dibilang sepele.

Anak dari orang tua yang bekerka sebagai petani ini banyak memperoleh juara di berbagai kompetisi catur disabilitas.

Salah satu kompetisi yang pernah ia ikuti yakni menjadi perwakilan DIY di ajang nasional. Dari sederet lomba dan penghargaan itu dia memperoleh biaya yang dapat menopang biaya kuliah di jurusan komunikasi di Universitas Terbuka.

“Bisa buat biaya kuliah dan membeli perlengkapan pendukungnya seperti laptop,” katanya.

Perempuan kelahiran 9 Oktober 2001 ini juga punya pekerjaan sebagai penyiar radio streaming. Rutinitas pekerjaan itu mengisi jeda waktu kuliahnya.

Supriyati berkisah. Mulanya ia tak suka main catur. Namun setelah ikut bermain dengan salah satu kakaknya, ia jadi tertarik dan terus mengasah kemampuannya.

 

Kepingin jadi Pengacara Seperti Hotman Paris

Keterbatasan tak mampu melihat tak menjadi batu sandungan buatnya. Supriyati kepingin membanggakan orang tuanya dengan segenap prestasi.

“Kepingin jadi atlet catur di kancah internasional,” ungkapnya saat ditanya keinginannya.

Tak hanya itu, dia juga bermimpi kelak menjadi pengacara yang sukses layaknya Hotman Paris.

“Saya kepingin bantu atau menolong orang memperoleh keadilan, lebih-lebih sesama penyandang disabilitas,” imbuhnya.

Wakil Kepala SLBN 2 Gunungkidul Bidang Kesiswaan, Oriza tak meragukan lagi semangat Supriyati.

“Kendati kondisinya tuna netra semangatnya luar biasa. Banyak bidang ia tekuni. Dia bisa jadi contoh teman-temannya yang kebetulan menyandang disabilitas,” ujar Oriza. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar