Sunardi Lumpuh Sebagian, Pantang Menyerah Pada Keadaan

oleh -
Sunardi sedang menggergaji kayu untuk bahan sangkar burung. KH/Kandar
iklan dispar
Sunardi sedang menggergaji kayu untuk bahan sangkar burung. KH/Kandar
Sunardi sedang menggergaji kayu untuk bahan sangkar burung. KH/Kandar

SAPTOSARI, (KH) — Pantang menyerah, sekiranya ungkapan ini tepat untuk menggambarkan kisah  Sunardi (44), warga Padukuhan Ngalang-alang sari Desa Planjan Kecamatan Saptosari, lumpuh pada sebagian tubuh yang dideritanya tak membuatnya pasrah dengan keadaan.

Sebuah peristiwa saat badan mini bus menggencet sebagian tubuhnya 2007 silam begitu sulit untuk Ia lupakan, kecelakaan saat dirinya bekerja sebagai kondektur jalur 16 jurusan Wonosari-Baron itu telah membuat sebagian tubuhnya dari pinggul hingga kaki tak dapat digerakkan alias lumpuh.

“Sekedar menggerakkan jari kaki saja sudah tidak bisa, aktivitas sehari-hari lebih banyak saya habiskan berbaring ditempat tidur,” ucap Sunardi lirih beberapa waktu lalu.

Semenjak itu, praktis Dirinya tak dapat lagi bekerja seperti sebelumnya. Setelah kewajiban sebagai tulang punggung keluarga tak dapat dijalankan, perekonomian keluarga mulai goyah, selain untuk kebutuhan makan sehari-hari, dua anaknya juga membutuhkan biaya sekolah.

Ia bertutur sempat putus asa, jangankan menanggung semua kebutuhan keluarga, dirinya malah merasa menjadi beban saat tinggal bersama istri di rumah mertuanya, lantas Ia putuskan untuk pulang ke rumah orang tua, setelah hubungan rumah tangganya juga memburuk.

Dilema yang harus dihadapi cukup sulit, hidup bersama orang tua yang sudah sepuh membuat dirinya tidak bisa tinggal diam, berfikir keras demi tegaknya perekonomian dan mencukupi biaya sekolah anaknya. Berbagai upaya untuk mendapat bantuan dilakukan, bantuan sosial sebesar Rp 300 ribu tiap bulan dari pemerintah kecamatan setempat yang diterimanya dapat sedikit membantu mencukupi kebutuhan.

Meski sulit, Ia paksa dan berlatih untuk dapat sesekali duduk di kursi roda, dengan tujuan dapat melakukan aktivitas lebih banyak ketimbang dengan tiduran. Dengan modal ketekunan dan nekat Ia berlatih melakukan sesuatu yang sebelumnya tak pernah terfikirkan olehnya, yaitu membuat sangkar burung.

“Sekitar 4,5 tahunan yang lalu saya mulai belajar secara otodidak membuat sangkar burung, awalnya nekat saja, waktu itu mendengar kabar lagi booming burung,” ucapnya sambil mengerutkan kening berusaha mengingat.

Dengan berbaring dan terkadang duduk di kursi roda Ia terus menekuni pekerjaan barunya itu, terbantu dengan komunikasi teman-temannya sewaktu menjadi kernet dan tetangga sekitar, sangkar buatannya mulai laku di pasaran.

Saat membuat sangkar dirinya tak sepenuhnya bisa mandiri karena keterbatasan geraknya, biasanya anak atau bapaknya yang membantu menyiapkan bahan baku berupa kayu mendekat ke tempatnya berbaring.

“Pada proses tertentu harus dilakukan dengan kursi roda, tetapi akhir-akhir ini saya tidak bisa duduk berlama-lama, semenjak alas kursi roda usang dan saya ganti gabus biasa, pinggul cepat terasa panas,” keluhnya.

Kendala kedua yang menuntutnya untuk lebih bersabar adalah pada alat pemotong kayu, karena dimungkinkan tegangan yang dibutuhkan alat tidak sesuai kapasitas tegangan listrik yang terpasang sehingga seringkali njeglek (baca: terputusnya arus karena saklar ampere meter mati).

“Kalau bapak atau anak saya di rumah, langsung dihidupkan lagi, kalau tidak ada otomatis ya berhenti bekerja, menunggu mereka pulang, sebenarnya butuh alat yang tegangannya rendah” tambahnya.

Di rumah kecil dan sederhana itu Ia menekuni usaha tersebut, bisnis jual beli ayam dan burung juga dilakukan untuk menambah pemasukan. “Yang namanya jualan tidak tentu, kadang 3 hingga 4 sangkar terjual dalam sebulan dengan harga antara Rp 75 ribu hingga Rp 150 ribu. Pokoknya apa sajalah yang penting bisa dapat rezeki,” pungkasnya. (Kandar)

Komentar

Komentar