Siti Badriyah: Pencetak Tutor Keaksaraan

oleh -
iklan dispar
PLAYEN, kabarhandayani.– Siti Badriyah menghabiskan hari-harinya sejak pagi hingga sore di Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Gunungkidul sebagai pamong belajar kelompok kerja (pokja) keaksaraan. Siti bergelut di bidang keaksaraan sejak berdirinya Pusat Kegiatan Pembelajaran Masyarakat (PKBM) pada tahun 2002 dan pemberantasan buta aksara merupakan salah satu program dari PKBM.
Berbekal dengan pengalamannya, ia mengimplementasikan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dengan mencetak 400 tutor keaksaraan dan 4.000 warga keaksaraan se provinsi. Ia memanfaatkan barang-barang yang dekat dengan warga sebagai media pembelajaran seperti tulisan pada bungkus makanan sehingga ia mampu mengentaskan 700 warga buta huruf di Kecamatan Playen.
Wanita yang menjadi ketua PKBM Sembada Desa Bleberan dan tutor pendidikan nor formal (Keaksaraan dan Kesetaraan) ini menjelaskan, para warga belajar keaksaraan fungsional, keaksaraan dasar dan keaksaraan usaha mandiri. Selain mengentaskan masyarakat dari buta aksara, ia juga mengentaskan masyarakat di bidang perekonomian dengan memberikan bekal dalam usaha mandiri.
“Orang yang buta aksara otomatis dekat dengan kemiskinan dan kebodohan. Maka diharapkan setelah mengikuti pembelajaran ini para warga belajar mampu menggunakannya secara fungsional dalam kehidupan sehari-hari. Jadi tujuan akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.
Siti menjelaskan, awalnya PKBM Sembada mengampu 5 desa yakni Desa Bleberan, Getas, Ngleri, Logandeng dan Banaran. Sedangkan pada tahun 2009, pemberantasan buta huruf hampir ada di setiap kecamatan di Gunungkidul. 
Pengagum Ki Hadjar Dewantara ini menjelaskan, mengajak warga untuk memahami akan pentingnya belajar bukan perkara yang mudah. Hal ini ditambah dengan mayoritas penyandang buta huruf warga Gunungkidul rata-rata berusia 40 tahun ke atas. Dalam usia tersebut, faktor daya tangkap baik pendengaran, daya ingkat, penglihatan mulai berkurang sehingga daya serap pun menurun.
Dalam hal inilah para tutor harus lebih sabar dan telaten. Selain itu, para warga belajar yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, maka ketika musim tanam atau panen proses pembelajaran berhenti dan membuat kesepakatan untuk diganti di hari lain dengan waktu sesuai kesepakatan untuk menempuh kompetensi yang telag ditentukan. Untuk meningkatkan minat para warga belajar, ia memberikan dana pembelajaran usaha untuk latihan praktek dan keterampilan sesuai yang diminatinya.
Selain dibidang tersebut, ia juga aktif dalam dasawisama, karangtaruna dan paguyuban. Ia membentuk Paguyuban Aksara Green di Dengok V dengan kegiatan mendaur ulang sampah menjadi kerajinan berdaya guna seperti souvenir, tas dan sebagainya. Sedangkan, sampah organik pun didaur ulang menjadi pupuk organik yang mendukung kepeduliannya terhadap lingkungan. Pada tahun 2009, paguyuban yang ia rintis ini juga merilis koran Ibu Media Informasi Pendidikan Keasaraan Kreatif yang diterbitkan setahun 2 kali. Koran tersebut memuat edukasi warga tentang pembuatan kompos, resep makanan dan sebagainya. Uniknya lagi, tulisan tangan warga yang buta huruf tersebut discan dan dimuat dimajalah dan sempat dicetak selama 500 eksemplar dan dibagikan secara gratis kepada warga.
“Semua saya lakukan atas dasar ikhlas, sejak kecil didik untuk berorganisasi karena saudara banyak biasa bekerja dengan teamwork, bisa memberikan sesuatu yg bermanfaat untuk orang lain sudah bahagia,” ungkap Siti. (Mutiya/Hfs)

Komentar

Komentar