Seorang Nenek Akhiri Hidup di Kandang Kambing

oleh -
Ayo bantu cegah bunuh diri dengan peduli diri sendiri dan peduli sesama di dekat kita. Foto ilustrasi: Tribunjabar.

TANJUNGSARI,(KH),– Kasus bunuh diri terjadi di wilayah Kabupaten Gunungkidul. Seorang warga, TR (80), warga Kalurahan Banjarejo, Kapanewon Tanjungsari ditemukan anaknya dalam keadaan meninggal dunia gantung diri di kandang Kambing. Kejadian ini diketahui terjadi, Minggu (14/2/2021) sekitar pukul 05.30 WIB.

Kapolsek Tanjungsari, AKP Wijayadi menuturkan, mulanya saksi mencari pelaku hendak menyuruhnya mandi.

“Setelah keluar rumah tepatnya di kandang kambing, anaknya sudah mendapati ibunya dalam keadaan gantung diri menggunakan selendang,” jelas Kapolsek.

Anak korban, sontak berteriak histeris meminta pertolongan. Tetangga korban lantas berdatangan menuju ke lokasi kejadian.

Warga yang datang bergegas melakukan upaya penyelamatan korban. Tragisnya, korban sudah dalam keadaan meninggal dunia.

Usai mendapat laporan terkait tindakan bunuh diri tersebut, pihaknya langsung berkoordinasi dengan petugas Puskesmas Tanjungsari untuk menuju ke lokasi kejadian. sesampai di lokasi kejadian, pihaknya bersama petugas Puskesmas Tanjungsari melakukan pemeriksaan terhadap jasad korban.

“Kami tidak menemukan tanda-tanda bekas penganiayaan. Pelaku meninggal dunia murni karena gantung diri. Oleh karenanya, jenazah langsung diserahkan ke pihak keluarga untuk dimakamkan,” lanjut Wijayadi.

Dari keterangan yang berhasil dikumpulkan, pencetus pelaku mengakhiri hidupnya, disebabkan karena depresi akibat penyakit kambuhan yang  dideritanya tak kunjung sembuh.

Terpisah, Psikiater RSUD Wonosari, dr Ida Rochmawati mengatakan, bunuh diri merupakan perkara rumit, merupakan irisan dari faktor risiko genetik, psikologis, sosial dan budaya serta faktor risiko lainnya.

“Terkadang berkaitan dengan pengalaman traumatik dan kehilangan yang pernah terjadi. Kasus-kasus bunuh diri menunjukan peristiwa dengan berbagai macam motif, berawal dari sebab-akibat yang unik (tidak bisa digeneralisir), bersifat kompleks, dan beragam situasi,” terangnya.

Kasus bunuh diri dan segala pemicu yang heterogen, menurut dr. Ida, menjadi tantangan bagi semua pihak untuk berperan bersama-sama dalam penanggulangan pencegahan bunuh diri.

“Tantangan ini dapat diatasi dengan mengadopsi pendekatan menyatukan pemahaman dan langkah di berbagai jenjang guna pencegahan bunuh diri,” imbuhnya.

Berdasarkan data yang telah dikaji oleh Imaji, faktor risiko bunuh diri yang terjadi di Gunungkidul yang paling besar yakni depresi.

“Dalam catatan kami, depresi menduduki rangking pertama karena mencapai 43 % sebagai penyebab bunuh diri. Pandemi yang berkepanjangan ini, meningkatkan tingkat depresi masyarakat,” imbuh dia.

Faktor lain yang menjadi pencetus, diantaranya adalah sakit fisik menahun 26 %, tidak ada keterangan 16 %, gangguan jiwa berat 6 %, masalah ekonomi 5 % dan masalah keluarga 4%. [Edi Padmo]

***

Catatan Redaksi:

  1. Ayo bantu ringankan beban dan pulihkan keluarga terdampak bunuh diri, dan berhentilah mencemooh, mengolok-olok atau menghujat orang/keluarga penyintas dari bunuh diri. Kejadian bunuh diri adalah peristiwa kemanusiaan dan problema kita bersama, dapat menimpa siapa saja tanpa memandang status sosial, pendidikan, agama, jender, dan atribut-atribut lainnya.
  2. Ayo bantu cegah bunuh diri di Gunungkidul dengan cara peduli kondisi fisik dan kejiwaan anggota keluarga, sanak saudara, dan sesama. Berikan bantuan kepada sesama yang memerlukan dukungan permasalahan kejiwaan atau kesejahteraan mental.
  3. Menyambungkan sesama yang membutuhkan pertolongan problema kejiwaan dengan layanan kesehatan terdekat (Puskesmas, Klinik, Rumah Sakit) atau layanan konseling kepada pemuka masyarakat dan pemuka agama setempat dapat menjadi upaya preventif mencegah bunuh diri.

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar