Selama 2020, 29 Warga Gunungkidul Bunuh Diri, 6 Diantaranya Berusia di Bawah 30 Tahun

oleh -
Ayo bantu cegah bunuh diri dengan peduli diri sendiri dan peduli sesama di dekat kita. Foto ilustrasi: Tribunjabar.
iklan upk panggang pelantikan bupati iklan upk panggang

 GUNUNGKIDUL, (KH),– Angka kematian warga Gunungkidul akibat bunuh diri tak banyak berubah. Tahun 2020 ini, menurut data Kepolisian Resor (Polres) Gunungkidul setidaknya ada 29 warga yang mengakhiri hidup. Jumlah tersebut selisih 1 angka lebih sedikit dibanding tahun sebelumnya.

Yang membuat miris, dari jumlah total tindakan bunuh diri itu, sebanyak 6 kali dilakukan oleh warga yang berusia cukup muda. Bahkan tiga diantaranya dilakukan oleh remaja.

Kasubag Humas Polres Gunungkidul menyebutkan, 26 tindakan bunuh diri dilakukan dengan gantung diri. Lantas, 3 diantaranya dilakukan dengan minum cairan beracun.

Berdasar temuan jajaran kepolisian, dugaan bunuh diri banyak diantaranya dilakukan karena kondisi depresi akibat sakit fisik yang tidak kunjung sembuh.

iklan asosiasi upk
iklan pemkab gunungkidul

“Ada temuan yang menyebut karena tidak kuat dengan persoalan ekonomi, gangguan kejiwaan dan persoalan rumah tangga,” kata dia, Rabu (31/12/2020).

Dihubungi terpisah, pemerhati kesehatan jiwa, Sigit Purnomo mengatakan, kisaran angka bunuh diri dari tahun ke tahun tak banyak berubah, antara 25 hingga 30 kejadian.

“Hal tersebut menunjukkan adanya faktor risiko bunuh diri yang belum diantisipasi secara maksimal,” ujarnya.

Faktor risiko yang dia maksud yakni berbagai situasi dan kondisi seseorang yang dapat mempengaruhi kondisi psikologis atau kesehatan jiwanya.

Pegiat di Yayasan Imaji ini mengajak momen pandemi Covid-19 menjadi media belajar bahwa kesehatan jiwa merupakan aspek kesehatan yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

“Selama pandemi digemborkan, jangan panik dan cemas agar imunitas tetap terjaga. Hal tersebut merupakan bukti bahwa kesehatan fisik dan mental saling berpengaruh,” jelas Sigit.

Untuk itu, menurutnya, porsi perhatian masyarakat dan pemerintah pada kesehatan mental semestinya juga sama dengan aspek kesehatan fisik. Sebab, kondisi kesehatan mental yang tidak terkelola dengan baik berisiko pada dampak yang lebih fatal, yakni depresi hingga tindakan bunuh diri.

“Ini momentum menggelorakan perhatian pada kesehatan mental,” imbuh dia.

Lebih jauh disampaikan, untuk mengetahui ada tidaknya serta sejauhmana faktor risiko kesehatan mental di-masyarakat, dapat dilalukan dengan mengoptimalkan keberadaan Kader. Baik kader Posyandu, PKK dan tokoh di lingkup RT. Sebab, mereka dianggap lebih tahu kondisi masyarakat di lingkup terkecil. Bersamaan jalinan komunikasi dengan pihak Puskesmas juga harus diperkuat. Dengan begitu jika ditemukan adanya gelaja di masyarakat yang berkaitan dengan kesehatan jiwa atau mental dapat segera dihubungkan ke fasilitas kesehatan terdekat. (Kandar)

iklan lurah rongkop
Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar