Sejarah Dan Nilai Rasul Gubug Gedhe Gedangsari

oleh -
iklan hut ri multazam
gubug-gedhe-gedangsari
Rest Area Gubug Gedhe, tempat berlangsungnya Rasul Gubug Gedhe masyarakat Desa Ngalang. KH/ Kandar

GEDANGSARI, (KH)— Dalam waktu dekat ini, Desa Ngalang akan menggelar adat tradisi berupa Rasul Gubug Gedhe. Pelaksanaan tradisi akan dilangsungkan padai Hari Minggu Pahing, (31/7/2016), sepetihalnya namanya, tradisi berlangsung di sebuah kawasan bernama Gubung Gedhe.

Rasul Gubug Gedhe sebagaimana diceritakan oleh Ketua Rintisan Desa Budaya, Kunto Wibowo, mengisahkan tokoh bernama Eyang Meles. Ia memiliki nama asli Harya Bangah, yang tak lain adalah salah satu patih pengikut Prabu Brawijaya saat meninggalkan Majapahit karena bersitegang dengan anaknya, Raden Patah.

Kepergian Brawijaya bersama rombongannya itu menuju suatu tempat, dimana ciri-ciri lokasi tujuan, sebelumnya telah diketahui melalui pertanda/ wangsit yang diterima. Wangsit menunjukkan, bahwa lokasi memiliki ciri berupa tanah berwarna merah dengan banyak gunung berbatu hitam,

Lanjut cerita Kunto Wibowo, Setelah menemukan tempat yang sesuai dengan petunjuk, Brawijaya bersama patih dan beberapa prajurit pilihan berhenti. Harya Bangah diminta untuk berjaga di sebuah kaki Gunung, dimana saat ini dikenal dengan sebutan Belik Gayam, lokasi ini tidak jauh dari Gunung Manten.

Kemudian Brawijaya menaiki puncak Gunung yang bernama Gadhean,  gunung ini berada di sebelah barat Gunung Manten. Rupaya, anak Brawijaya selalu memantau kemana ayahnya pergi, hal ini dilakukan demi keinginannya bahwa ayahnya diminta memeluk agama Islam. kunto juga mengatakan bahwa upaya tersebut mendapat bantuan wali.

Sambung ceritanya, Raden Patah dan para wali mengetahui keberadaan Brawijaya, sehingga dikirmlah Padasan/ Gentong dengan cara dilempar. Berkat mantra dan kesaktian Raden Patah gentong jatuh di atas sebuah gunung dalam kondisi utuh. Raden Patah memiliki maksud supaya ayahnya, Brawijaya bersedia berwudhu dalam artian masuk memeluk agama Islam.

Karena tempat pesanggrahannya diketahui, Brawijaya memutuskan pindah, sebelum pindah tak lupa ia menghampiri dan mengajak Harya Bangah. Namun Harya Bangah menolak karena di tempatnya berjaga ia sudah berkeluarga dan memiliki keturunan.

Sebelum kepergian Brawijaya, ia sempat memberikan nama baru kepada Harya Bangah dengan nama panggilan Eyang Meles. Tujuan pemberian nama itu dimaksudkan untuk menghilangkan jejak, sekaligus Brawijaya juga berpesan kepada Eyang Meles agar tidak menyampaikan ke siapa pun mengenai kepergiannya dari Gadhean. Ditempat itu Eyang Meles menjadi tokoh sesepuh, menjadi rujukan, panutan dan contoh bagi masyarakat sekitar.

“Sebagai panutan mengenai apa saja, perihal agama, olah tani, serta perihal budaya. Meski pada akhirnya menganut agama Islam ia tidak meninggalkan tradisi adat budaya Hindu dan Budha. Salah satu kegemaran Eyang Meles mengadakan Tayuban sesudah musim panen,” kisah Kunto Wibowo, Selasa, (26/7/2016).

Dilanjutkan Kunto, Kebiasaan itu diwarisi kedua putranya, yakni Eyang Kopek dan Eyang Kalangbaya. Sebagaimana ayahnya mereka suka menggelar tradisi Nyadran dan Tayuban. Suatu ketika, disebabkan karena faktor umur dan kerepotan, selepas panen kedua tokoh tersebut belum juga mengadakan Nyadran dan Tayuban.

Maka kemudian anak cucu keturunan Eyang Kopek dan Eyang Kalangbaya mengadakan musyawarah di sebuah bulak, alas, atau tanah lapang tempat menggembala sapi dan kambing, karena begitu banyaknya keturunan anak cucu Eyang kopek dan Kalangbaya, tanpa diduga seolah-olah musyawarah dilakukan oleh sebagian besar penduduk desa.

Setelah adanya mufakat, mereka menyampaikan niat Nyadran dilengkapi Tayuban kepada Eyang Kopek dan Eyang Kalangbaya. Mengawali pelaksanaannya pertama-tama dilakukan pencarian hari yang tepat oleh para sesepuh. Lantas disepakati ada dua pilihan hari sehabis masa panen, yakni Minggu pahing dan Senin Pahing. Pemilihan waktu tersebut selalu menghindari hari Uwas atau buruk sebagaimana tradisi jawa.

“Diceritakan turun temurun, waktu itu terjadi sekitar tahun 1800-an, pelaksanaan Nyadran dan Tayuban sebelumnya hanya berlangsung di bawah pohon, mengingat banyaknya keturunan dan penduduk di desa Ngalang, maka disepakati dibangunlah sebuah gubuk besar sebagai tempat Nyadran, sejak saat itu kawasan tersebut dinamai Gubuk Gedhe,” papar Ekobang Desa Ngalang ini.

Kunto sebutkan, selain sebagai hiburan masyarakat, Nyadran dilakukan sebagai wujud syukur atas keberhasilan panen, sehingga acara ini juga disebut Rasulan, dari kata dasar Rasul, akronim dari kata Beras/ Padi dan Masul/ pulang. Sehingga Rasul bisa diartikan Beras wus Masul, atau Beras sudah dibawa pulang saat panen.

Pelaksanaan Rasul bertujuan untuk menumbuhkan kembali, memupuk dan meningkatkan rasa persatuan dan kesatuan, nuansa ini muncul disaat awal dimulainya acara persiapan, dimana seluruh padukuhan di Desa Ngalang terlibat mendirikan Gubug Gedhe.

“Dengan pengaturan jadwal, pendirian Gubuk berbahan bambu dan beratap anyaman daun kelapa itu merata ke warga di 14 padukuhan. Tak hanya itu anggaran biaya secara keseluruhan secara merata ditanggung seluruh warga,” ulas Kunto.

Lebih jauh disampaikan, sempat muncul usulan bahwa Gubug dengan ukurannya 15 x 20 meter itu dibuat secara permanen, namun para tokoh adat tidak menyetujui, karena akan menghilangkan nilai-nilai yang terkandung, hanya alas lantai saja yang disetujui untuk dibuat secara permanen.

Arak-arakan gunungan Rasul Gubug Gedhe. dok. Desa Ngalang.
Arak-arakan gunungan Rasul Gubug Gedhe. dok. Desa Ngalang.

Rangkaian pelaksanaannya, pada saat ini banyak ditampilkan kesenian dari kelompok-kelompok yang ada di Desa Ngalang. Pentas dilakukan setiap malam hari kurang lebih selama  seminggu sebelum sampai pada hari pelaksanaan Rasul Gubug Gedhe, beberapa diantaranya ada reog, jathilan, dan kethoprak serta tari-tarian.

Sebagai pelengkap kemeriahan terdapat pasar malam di area tanah lapang Gubug Gedhe itu. Pada puncaknya, setiap Padukuhan membawa Gunungan berupa aneka makanan dan hasil bumi, kirab diwalai dari kantor desa diarak menuju Gubug Gedhe dengan jarak kurang lebih sejauh 2 kilometer.

“Arak-arakan biasanya sepanjang satu kilometer lebih, semua gunungan berisi makanan dan hasil bumi itu setelah digelar upacara Selametan, Kenduri, dan pemanjatan doa oleh pemangku adat, semua diberikan kepada pengunjung yang datang menyaksikan tanpa terkecuali,” urai Kunto Wibowo mengakhiri ceritanya. (Kandar)

Komentar

Komentar