SDN Gunung Gambar, Satu-satunya Sekolah di Gunungkidul yang Terapkan Pembelajaran Tatap Muka

oleh -
Pembelajaran daring
Kunjungan Kemendikbud ke SDN Gunung Gambar. (dok. SDN Gunung Gambar)

NGAWEN, (KH),– Pandemi Covid19 yang melanda Indonesia sejak bulan Maret 2020 lalu menimbulkan efek di berbagai bidang perikehidupan masyarakat secara umum. Termasuk dunia pendidikan. Lebih dari satu tahun anak-anak bersekolah secara Daring atau Online. Begitupun juga sekolah-sekolah yang ada di Gunungkidul. Pembelajaran Daring yang diterapkan bukan tanpa kendala. Banyak sekolah-sekolah, terutama di daerah terpencil di Gunungkidul, yang karena keterbatasan sinyal mengalami kendala dalam pembelajaran sistem Daring.

Satu-satunya sekolah di Gunungkidul yang tidak menyelenggarakan pembelajaran daring yakni SD Negeri Gunung Gambar.

SD Negeri yang berdiri sejak tahun 1986 atau sudah berusia 35 tahun ini terletak di Padukuhan Gunung Gambar, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul.

SD N Gunung Gambar memang berada di wilayah yabg terpencil. Secara Geografis berada di pegunungan Zona Batur Agung Utara wilayah Gunungkidul. Murid-muridnya berasal dari Padukuhan Gunung Gambar, Kalurahan Kampung, Kapanewon Ngawen serta dari Padukuhan Pringombo, Kapanewon Nglipar.

iklan upk hari jadi

Kepala Sekolah SD N Gunung Gambar, Purno Jayusman (52) menceritakan awal mula SD yang dipimpinnya memutuskan untuk melaksanakan sistem pembelajaran tatap muka di masa Pandemi.

“Murid-murid kami berasal dari 3 padukuhan, rumah-rumah mereka rata-rata berada di daerah Blankspot, tidak hanya sulit sinyal, tapi betul-betul tidak ada sinyal. Jadi untuk sistem daring betul-betul kendala besar bagi kami,” terang Jayus, Kamis (20/5/2021).

Menurut cerita Jayus, tugas yang diberikan kepada murid, yang seharusnya diselesaikan dalam waktu setengah hari, karena kendala sinyal, maka baru dikirim kepada guru bisa sampai dua hari atau lebih.

“Dengan keterlambatan seperti itu, maka terus terang kami tidak bisa mencapai target kurikulum pembelajaran yang harus kami sampaikan kepada murid,” lanjutnya.

Setelah sekitar dua minggu berjalan sistem daring, kendala mendasar tersebut terpaksa harus mereka hadapi. Di samping pembelajaran yang disampaikan tidak bisa sampai ke siswa, beberapa siswa bahkan harus berjuang untuk menempuh perjalanan hampir dua kilometer menaiki bukit untuk mencari sinyal internet.

Keadaan inilah yang memaksa para guru berpikir keras untuk mengatasi persoalan yang dihadapi. Maka diambil keputusan untuk mengadakan rapat para guru, wali murid dan komite sekolah guna mencari solusi.

“Dalam pertemuan itu, kami sepakat untuk menyelenggarakan sistem pembelajaran tatap muka, tapi dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat,” terangnya.

Dengan kesepakatan itu, maka akhirnya SD N Gunung gambar memberanikan diri untuk menyelenggarakan pembelajaran tatap muka langsung. Pelaksanaannya dilakukan tiga kali seminggu dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Eko sujatmo (43), salah satu wali murid, sekaligus Komite Sekolah membenarkan bahwa diselenggarakannya sistem belajar tatap muka di SD N Gunung Gambar merupakan kesepakatan bersama antara Guru, wali murid dan komite sekolah. Hal itu terpaksa ditempuh karena kendala yang dihadapi, sehingga sistem pembelajaran daring sangat sulit dilakukan.

“Hambatan utama adalah tidak ada sinyal, terus tidak semua wali murid mempunyai kemampuan untuk mendampingi siswa dalam belajar online serta tidak semua siswa atau orang tua/wali mempunyai HP,” terang Eko.

Menurut Eko, SD N Gunung gambar merupakan sekolah yang terpencil. Tetapi semangat belajar para murid dan dedikasi para guru yang mengajar sangat tinggi.

Banyak dari siswa yang harus berjalan kaki sejauh hampir tiga kilometer untuk sampai ke sekolah. Dengan kontur alam yang berbukit-bukit, para murid melewati jalan setapak naik turun untuk sampai ke sekolah mereka demi mendapat pendidikan.

“Semangat siswa dalam belajar sangat tinggi, dengan sistem belajar daring, para siswa dan wali merasa sangat kesulitan untuk mengikuti,” lanjut Eko.

Eko melanjutkan, wali murid dan komite sekolah memang menganjurkan bagi pihak sekolah menyelenggarakan pembelajaran tatap muka. Mekanismenya kemudian dirancang. Untuk ijin ke dinas pendidikan, tentu tidak mungkin, karena aturannya sekolah di masa Pandemi memang harus sistem daring atau online.

Purno Jayusman dan guru guru kemudian mencoba penerapan belajar tatap muka selama seminggu tiga kali dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat.

“Murid masuk seminggu tiga kali. Harus cuci tangan, pakai masker, jaga jarak. Semua kewajiban harus ditaati,” lanjut Jayus.

Wali murid juga dituntut untuk selalu melaporkan jikalau ada anggota keluarga yang datang dari luar kota.

“Jika ada anggota keluarga yang datang dari luar kota, maka murid atau siswa yang bersangkutan, kami beri ijin untuk tidak masuk, dan harus belajar di rumah selama 14 hari,” terang Jayus.

Dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, Jayus menyatakan bahwa sampai saat ini tidak terjadi kluster atau murid yang terpapar Covid19.

“Alhamdulillah, sampai saat ini, pembelajaran tatap muka yang kami lakukan, tidak menimbulkan penularan Covid19. Penerapan protokol kesehatan yang ketat, memang syarat wajib bagi kami, saat kami memutuskan untuk melakukan pembelajaran tatap muka langsung,” terangnya.

Menurut Jayus, dengan keputusan ini, target pembelajaran kurikulum murid bisa terpenuhi, semangat belajar siswa dan guru guru juga masih bisa terjaga.

“Guru-guru di sini juga mempunyai etos mengajar yang tinggi, beberapa dari mereka ada yang “nglaju” dari daerah Bantul dan Kulonprogo. Mereka sering menginap di sekolahan jika ada suatu hal yang sangat penting,” imbuhnya.

Jayus menyebut, beberapa guru yang Nglaju salah satunya Sukiran. Guru yang berasal dari Bantul itu mengabdi di SDN Gunung Gambar selama kurang lebih 30 tahun. kemudian Sarmidi, nglaju dari Kulonprogo sejauh 80 kilometer setiap hari dan sudah mengabdi hampir 20 tahun di SD N Gunung Gambar.

“Pengabdian dan dedikasi para guru ini semata untuk mempertahankan eksistensi SD N Gunung Gambar, agar bisa bertahan bahkan berkembang, agar tidak di regrouping,” terang Jayus.

Menurut Jayus, walau sekarang ini muridnya hanya 30 orang, jika sampai di regrouping, maka siswa siswa dari 3 Padukuhan ini akan terlalu jauh untuk mendapatkan sekolah, karena harus turun gunung sejauh puluhan kilometer.

“Kami tetap berusaha mempertahankan eksistensi SD N Gunung Gambar, agar anak-anak di Padukuhan Gunung Gambar dan Pringombo bisa sekolah tidak terlalu jauh dari rumah mereka,” pungkas Jayus. (Edi Padmo)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar