Sate Lek Warsi Playen

oleh -
Warung sate Lek Warsi Playen. Foto : Kabar Handayani
iklan dispar
Warung sate Lek Warsi Playen. Foto : Kabar Handayani
Warung sate Lek Warsi Playen. Foto : Kabar Handayani

PLAYEN, (KH) — Memulai usaha sate kambing bukanlah perkara mudah, jika tidak ada yang menjual daging kambing secara kiloan di pasar. Pada umumnya pedagang sate juga menjual gule dan tongseng. Dengan demikian pedagang sate juga harus membeli jeroan kambing. Bukankah hati kambing juga banyak digemari masyarakat. Bahkan, ada pelanggan yang menggemari daging bagian kepala kambing.  Semua itu membuat pedagang sate, mau tidak mau harus memotong satu ekor kambing muda.

Semua tulang dari kambing, dapat mengundang selera
Semua tulang dari kambing, dapat mengundang selera

Berbeda dengan pedagang sate di kota besar di mana ada pasar yang menjual daging kambing secara kiloan, banyak pedagang sate yang tidak perlu memotong 1 ekor kambing, untuk menjajakan sate kambingnya. Ciri cirinya, daging kambing utuh tidak di gantung di depan warung sate; atau kalau digantung, pada tempat lain, pelanggan tidak dapat melihat bagian lain dari kambing selain daging kambing. Ada kalanya, ketika pembeli memesan sate kambing, pedagang mengambil sate dari dalam warung. Dapat diperkirakan pedagang mengambil daging sate yang telah ditusuk, dari dalam lemari pendingin atau penyimpanan daging kambing. Jelas pedagang tersebut tidak memotong satu ekor kambing, ketika memulai menjual sate kambing pada hari itu.

Teknik memotong kambing sangat penting dalam usaha sate kambing, gule, dan tongseng. Salah memotong kambing dapat membuat daging kambing menjadi prengus (bau khas kambing) yang dapat mengurangi selera makan.Teknik memotong kambing tidak dimiliki setiap tukang potong kambing. Oleh karena itu, banyak pedagang sate yang memilih memotong sendiri kambing yang akan dijadikan sate, gule dan tongseng.

Tahun 1970 di kota kecamatan Playen sudah ada pedagang sate. Pada waktu itu pedagang sate kambing tidak buka tiap hari. Warung sate buka kalau hari pasaran tertentu. Satu ekor kambing dipotong sendiri untuk dijadikan bahan sate yang dijual. Sampai saat ini di pasar Playen tidak ada pedagang yang menjual daging kambing. Resiko daging kambing atau jeroan kambing yang sudah dijadikan gule, tidak terjual menjadi nyata. Semua ini tidak mengurungkan niat untuk tidak membuka warung sate pada hari pasaran. Warung sate itu sampai sekarang masih membuka warungnya di Playen. Tidak ada papan nama warung yang tertera. Pelanggannya dari dulu sudah mengenal warung tersebut; warung sate Lek Warsi.

Warung sate Lek Warsi masih membuka warung sampai sekarang di sebelah selatan jalan Siyono Playen. Tidak jauh dari pertigaan Playen, sebelah timurnya. Kalau dari dari Siyono, sebelum pertigaan Playen. Warung sate Lek Warsi biasanya buka pada sore hari sampai malam hari. Tidak ada nama yang tertera di warung tersebut. Jika ragu, pelanggan dapat bertanya di mana tempat warung sate tersebut. Hanya ada satu warung sate di deretan warung warung yang dibuka di sepajang jalan tersebut. Biasanya pada sore hari di tempat tersebut, tempat berhentinya bus antar kota menaikkan penumpang. Kebetulan tidak jauh dari warung sate ada agen bis antar kota.

Jika pelanggan memperhatikan, ada nanas yang dipergunakan dalam mengolah daging kambing. Ada perbedaan cita rasa yang berbeda, jika menggunakan nanas dalam pengolahan masakan daging kambing. Tekstur daging yang berbeda ketika digigit, memberikan rasa yang berbeda pula. Bagi pelanggan yang tidak ingin menggunakan nanas dalam masakan, dapat memesan agar tidak menggunakan nanas dalam masakan. Sebenarnya rasa nanas tidak terasa dalam masakan, karena daging dicampur sedemikian rupa dengan nanas dalam takaran yang pas.

Nanas turut dipergunakan dalam masakan daging kambing. Foto : Kabar Handayani
Nanas turut dipergunakan dalam masakan daging kambing. Foto : Kabar Handayani

Selama pelanggan datang ke warung sate Lek Warsi, dijamin bau prengus tidak ada. Kambing yang dipotong adalah kambing yang dipotong sendiri dengan teknik yang diwariskan turun temurun. Pada saat ini warung sate Lek Warsi sudah ditangani oleh generasi ketiga. Lek Warsi sendiri sudah jarang datang melayani pembeli, karena usia yang sudah cukup tua. Sesekali masih melayani pembeli, tetapi sudah tidak seperti dulu lagi ketika masih muda.

Penyajian sate, gule atau tongseng, tidak berubah sejak dulu. Satu ceting nasi dengan piring untuk makan dan satu piring masakan daging sesuai pesanan. Untuk sate, pelanggan dapat memesan sate yang disajikan lengkap dengan kubis atau tidak. Jika tidak selera dengan bawang merah mentah, dapat meminta tidak menggunakannya dalam pesanan. Pedas atau tidak juga dapat dipesan. Sebaiknya memesan tidak pedas, karena pelanggan dapat meminta potongan cabe dan bawang merah mentah. Jika ingin pedas, tinggal menambah irisan cabe rawit mentah. Merica di sediakan di atas meja, sehingga pelanggan dapat menambah sendiri merica, jika menginginkan rasa pedas merica lebih terasa.

Penyajian sate yang sederhana. Foto : Kabar Handayani.
Penyajian sate yang sederhana. Foto : Kabar Handayani.

Untuk menghilangkan rasa pedas atau haus, warung sate Lek Warsi menyediakan wedang teh dan jeruk, memakai es atau tidak. khusus untuk teh, pelanggan dapat memesan wedang teh poci. Mengenai minuman yang disediakan tidak ada yang istimewa. Sama seperti warung makan pada umumnya.

Jika pelanggan ingin menikmati sajian dengan lesehan, pelanggan dapat duduk di tikar yang telah disediakan. penggunaan tikar untuk lesehan mengikuti jaman, ketika banyak pelanggan yang menginginkan makan sambil lesehan. Jaman dulu hanya disediakan meja dan kursi untuk menyantap. Mengenai harga satu porsi sate, gule atau tongseng, sama dengan harga pada umumnya harga yang dijual oleh pedagang sate di sekitaran Playen. Silahkan datang dan mencoba masakan sate Lek Warsi.

Komentar

Komentar