Sarmi, Dari Jual Kecambah Bisa Biayai 3 Anak dan Lakukan Umroh

oleh -
Sarmi sedang menyiapkan dagangan kecambah. KH/Sarwo.
iklan dispar
Sarmi sedang menyiapkan dagangan kecambah. KH/Sarwo.
Sarmi sedang menyiapkan dagangan kecambah. KH/Sarwo.

PLAYEN, (KH) — Bulan Ramadan merupakan bulan suci, di mana umat Islam diwajibkan melaksanakan puasa. Puasa menjadi wahana evaluasi perilaku dan tindakan selama satu tahun, apakah sudah dilakukan atau belum. Di bulan suci umat Islam juga dituntut untuk menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, dan tak terhindarkan juga melakukan sodakoh, melakukan ibadah puasa mendapatan pahala yang melimpah, berlipat dibanding hari-hari biasa, dan kembali bersih setelah menunaikan puasa. Kebersihan dan kesucian itu terlaksana pada Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1436 H.

Sarmi (55) warga Dusun Bogor desa Playen, tak melupakan kesempatan baik di bulan Ramadan. Kendati kesibukannya menyiapkan dagangan “kecambah”, tetap melaksanakan puasa sebulan suntuk. Sarmi terbiasa menyiapkan dagangan kecambah siang malam dengan ditemani anak ketiga.

Sarmi dikaruniai 3 putra, 1 laki-laki sudah mengabdi sebagai anggota Polri, anak kedua perempuan, sudah jadi Guru TK, dan anak ketiga menemani di rumah. Suaminya sudah almarhum, dahulu bekerja di perusahaan daerah. Semua keberhasilan ke tiga anak dari hasil jualan kecambah. Suyadi, nama suaminya, sudah meninggal 25 tahun lalu, ketika anak-anaknya masih kecil.

Dahulu kala, Sarmi merasakan betapa susah untuk bisa menyekolahkan anak-anaknya. Tetapi ia teringat, ada pesan yang tak lupa sampai sekarang.”Urusen bocah-bocah ya Mi. Gusti ora sare, bakal paring rejeki liwat kecambah iki.” Demikian pesan suaminya, yang ternyata menjadi kenyataan, hingga Sarmi dapat menyekolahkan anak-anaknya.

“Alhamdulilah,saya sudah melaksanakan umroh ke tanah suci, tahun 2013 lalu. Dananya juga dari hasil penjualan kecambah,” tambah Sarmi, sambil menyiapkan kacang hijau bahan kecambah.  

Seorang diri menyiapkan dagangan kecambah. Pulang dari Pasar Playen Gunungkidul sekitar jam 09.00 WIB, kemudian menyiapkan kedelai dan kacang hijau. Sehari dapat menghabiskan 25 kg kedelai dan 25 kg kacang hijau. Berangkat dari rumah ke pasar, jaraknya 2 km menggunakan mobil kijang, bersama anak ragilnya, sekitar jam 02.00 sampai pasar langsung membagi dagangannya ke pelanggan, dan menjual kecambah di Los Pasar Playen, sambil makan sahur di pasar. Hari pertama puasa, dagangannya ludes sekitar jam 05.00 WIB. Ia langsung menuju ke Mushola untuk salat subuh.

Setelah Subuh, Sarmi baru mengambil uang ke pelanggan, dan pulang ke rumah jam 09.00. Berapa harga kecambah yang dijual Sarmi? Untuk kecambah kacang hijau Rp 7.500,-/kg dan kecambah kedelai Rp 5.000,-/kg. Sedang bahan bakunya kedelai per kg-nya Rp 6.500,- dan kacang hijau Rp 21.500,-/kg. Sepintas harga jualnya kok dibawah harga bahan baku, ternyata 1 kg kacang hijau menjadi 3 kg kecambah dan dijual Rp 22.500,- artinya mendapatkan keuntungan Rp 1.000,-/kg kacang hijau. Sebaliknya dari kecambah kedelai, bahan bakunya Rp 6.500,- jadi 3 kg kecambah, dijual Rp 5.000,-/kg jadi 1 kg kedelai menghasilkan Rp 15.000,- keuntungan dari kedelai Rp 8.500,-. Dari hasil penjualan kecambah, ternyata dapat menyekolahkan anak-anak dan untuk kepentingan sosial lainnya.

Sarmi juga dapat turut menolong tetangganya.  Ia memberikan penghasilan seorang ibu yang membantu membungkus kecambah dengan plastik, uang Rp 1.000,- dapat 3 plastik kecambah. Sehari-hari salat lima waktu tak pernah dilupakan.

“Penjualan kecambah pada bulan puasa, ada peningkatan sedikit.” Pungkas Sarmi. (Sarwo).

Komentar

Komentar