Santap Kuliner Brekat Dalem Mampu Dinginkan Pikiran

oleh -
iklan dispar

PATUK, kabarhandayani.– Hiruk pikuk Lebaran 2014 dan Pilpres baru saja berlalu. Semua kembali ke aktivitas keseharian masing-masing. Sesibuk apapun, rekreasi itu memang perlu. Apa lagi rekreasi didukung dengan suguhan menu khas kuliner daerah tujuan wisata.
Gunungkidul yang dikenal menyimpan sejuta destinasi wisata telah mampu mengundang wisatawan untuk berkunjung. Sebut saja Gunung Api Purba, Gua Pindul, dan keindahan jejeran pantainya. Di antara destinasi wisata tersebut, di dekat kawasan ekowisata Gunung Api Purba ternyata ada kuliner Brekat Dalem yang benar-benar menggugah selera.
Racikan kuliner ini patut dijajal sensasinya. Menu Brekat Dalem digagas anak-anak muda anggota Karang Taruna Bhakti Muda dari Plumbungan Putat Patuk. Lokasi kuliner ini juga mudah dijangkau, karena tepat pada salah satu jalur wisata andalan Gunungkidul, yaitu Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba. “Biasanya, konsumen kami adalah wisatawan yang istirahat setelah lelah menikmati liburan,” kata Ketua Karang Taruna Wahyudi, Sabtu (13/9/2014).
Berdasarkan penuturan pengunjung, menikmati kuliner Brekat Dalem itu rasanya damai. “Sembari mencicipi hidangan, kita bisa menikmati suasana alam bentangan hamparan sawah terasiring. Sangat mendinginkan pikiran setelah sibuk beraktivitas,” ucap Fachriaditya Dani Bayu Krisna, salah seorang pengunjung asal Jakarta.
Bersama dengan rombongan dari Patungan Sedekah (PS) Gunungkidul, ia menyempatkan diri menjajal menu khas Gunungkidul tersebut. Ternyata, kata dia, informasi dari banyak media memang tidak bohong. “Memang sungguh enak rasanya, suasana indah membuat pikiran dingin,” ucap Puri, rekan Fachriadita.
Menu yang disajikan Brekat Dalem memang spesial. Pemesan tinggal duduk di sebuah gubuk yang berada di pematang sawah. Pramusaji yang kebanyakan anak-anak muda akan beriring-iringan mengantar makanan. Menu sego brekat menyuguhkan nasi gurih.
Berbagai rempah mulai kedelai goreng, potongan-potongan kubis kecil-kecil, kacang goreng serta peyek yang diremuk. Hidangan utama ingkung ayam jawa disajikan dalam menu tersebut. “Rasanya gurih dan cenderung manis. Permintaan kami kemarin memang seperti itu,” kata Puri.
Saat KH menengok ke dapur Brekat Dalem, koki rumah makan ini ternyata adalah ibu-ibu PKK. Di ruang dapur inilah, Sumilah, Painem, Ratmini dan Jumini meracik bumbu dan memasak berbagai hidangan kuliner Brekat Dalem. KH disambut sangat ramah, sesekali diselingi guyunan. “Proses peracikan menu Brekat Dalem membutuhkan waktu cukup lama. Konsumen pesan terlebih dahulu minimal sehari sebelumnya,” kata Ratmini.
Sulistyo, Dukuh Plumbungan mengungkapkan, menu tersebut kini memang menjadi sebuah suguhan yang sangat diminati para pengunjung. Wisatawan dari berbagai daerah mulai dari Jakarta hingga Jawa Timur sudah pernah berdatangan memesan makanan khas tradisional tersebut.
Untuk dapat menikmatinya, pengunjung tidak perlu merogoh kocek yang dalam. Karena satu paket Brekat Dalem cukup menggantinya dengan harga Rp 135.000. Makanan untuk 5-6 orang tersebut sudah satu paket dengan minuman.
“Kami sengaja menawarkan hamparan sawah untuk dinikmati oleh wisatawan. Karena kami ingin menjadikan dusun ini sebagai desa wisata khusus pertanian,” terangnya.
Gubuk-gubuk milik petani yang biasa dimanfaatkan untuk berteduh petani telah disulap menjadi tempat makan yang menyenangkan. Hamparan padi selalu menemani wisatawan sambil menikmati menu Brekat Dalem. Ini karena di dusun ini air terus mengalir sehingga pertanian bisa berlangsung sepanjang musim. Di kawasan ini, produktivitas pertanian padi bisa 3 hingga 4 kali panen dalam setahun. (Juju/Jjw).

Komentar

Komentar