Sumbodo Rintis Organ Tunggal Campursari

oleh -
iklan dispar

PLAYEN, kabarhandayani,– Campursari merupakan bentuk seni hiburan yang merebak sampai kemana-mana. Seni yang mencuat dari Gunungkidul, yang dibidani Manthous (alm) sangat cepat diterima masyarakat.
Sebagai seni hiburan yang begitu digemari, imbasnya hampir setiap desa di Gunungkidul tumbuh subur grup Campursari. Bahkan, seni hiburan Campursari tak ketinggalan merambah ke kabupaten lainnya, seperti di Bantul, Sleman, Kulonprogo  dan Kota Yogyakarta. Di sana juga tumbuh kelompok seni Campursari, baik yang komplit maupun yang versi ringkas.
Tak ketinggalan, Sumbodo, SSn, warga Desa Gading Kecamatan Playen, juga turut mengembangkan seni hiburan Campursari. Ia mendirikan kelompok seni yang diberi nama “Campursari Cahyo Wukir Gading”. Ia merintis kelompok seni Campursari ini  dengan personil minimalis. Hanya dengan 5 personil, mereka sudah bisa pentas. Berbagai undangan pentas di rumah yang punya hajat mantu atau khitanan telah mereka jalani selama ini.
Kelompok Campursari Cahyo Wukir Gading terdiri dari 5 personil. Lima personil tersebut adalah: Sumbodo sebagai pemain keyboard, dan dengan penyanyi S Harjono (adik Manthous), Maman SPd, Gatot Heru Prayitno, dan Endang Suratman.
Grup ini tampil perdana di Desa Sawahan Kecamatan Ponjong. Dulu, banyak pihak yang mencibir keberadaan CCWG, apakah grup ini bisa eksis. Tetapi, Sumbodo tetap maju berkarya. Beberapa kawan Sumbodo bahkan mendukungnya. Sumarno dan Yudi, yang mendirikan grup musik pelantun lagu-lagu nostalgia sering berkolaborasi dalam pentas bersama CCWG. Hiburan menjadi lebih komplit, dengan bergantian menyanyikan lagu-lagu bergenre pop lawas (tembang kenangan) dan lagu-lagu campursari.
Sumbodo awalnya berkiprah di dunia seni karawitan dan sendratari asuhan Kadi dan Kitin.  Ia kemudian bergabung dengan Paguyuban Ketoprak Mudho Budoyo tahun 1983 pimpinan Sutopo, dan kemudian hijrah ke Paguyuban Ketoprak di Berbah.
Tahun 1990 Sumbodo juga sempat masuk sekolah Pedalangan Habirandha sampai 1993. Di sekolah pedalangan ini ia diasuh oleh R Ant Sangkono Tjipto Wardoyo, RL Radyo Mardowo, M Basirun Hadi Sumarto, M Basuki dan disesepuhi Murdaningrat. Tapi sayang ijazah Habirandha yang sempat diterima, hanya dipraktekkan beberapa kali, karena istrinya Wastin (40) tak mengijinkan Sumbodo (43) menjadi dalang.
Akhirnya Sumbodo menekuni seni huburan Campursari Ringkes atau yang sering disebut Elektonan atau Orjen Tunggal. Saat ini, Sumbodo dengan grup CCWG aktif melayani berbagai tanggapan dengan personil Sumbodo, Maman SPd, Joko As, Gatot Heru Prayitno, Rani Priahtmini, Dewi Purwandari, Prapti Wulandari (asli Kalimantan), Trias Krisna Widawati, dan Triana Agung Pambudi.
Sumbodo menceritakan kenangannya, proses pembuatan Campursari Ringkas lewat keyboard ia lakukan selama berbulan-bulan. Dengan mengotak-atik template musik keyboard, akhirnya ia bisa men-setting musik campursari. Semua bunyi alat campursari  orisinil dapat ia masukkan ke dalam perangkat keyboard. Ia menuturkan, keberhasilannya melakukan replikasi bunyi alat musik orisinil ke dalam bunyi derivatif dari alat musik keyboard ini juga berkat bantuan Suharjono (adik Manthous). Dengan penuh kesabaran, Suharjono memberikan bimbingan dan mengoreksi instrumen yang dibuat Sumbodo dan Maman SPd.
Kini, Sumbodo dan grup CCWG selalu siap menghibur para penggemar musik Campursari dan siap melayani pentas dari panggung ke panggung atau pun tanggapan pentas dari hajatan dari rumah ke rumah. Semua permintaan pentas dilayani dengan profesional dilandasi semangat paseduluran dengan para penanggapnya.
Sumbodo dan Wastin saat ini dikaruniai 2 anak laki-laki. Anak pertama sudah menelesaikan kuliah Jurusan Perhotelan, dan anak kedua sedang Kuliah di AKPER Yogyakarta. (Sarwo/Jjw).

Komentar

Komentar