Samidi, Mendedikasikan Seluruh Hidupnya Sebagai Guru

oleh -
Samidi, Mendedikasikan Seluruh Waktunya sebagai Guru. Foto: Sidik
iklan dispar
Samidi, Mendedikasikan Seluruh Waktunya sebagai Guru. Foto: Sidik
Samidi, Mendedikasikan Seluruh Waktunya sebagai Guru. Foto: Sidik

SEMIN,(KH)–Samidi (68) ingin menghabiskan sisa hidupnya untuk berkarya. Di usianya yang sudah hampir mencapai kepala tujuh, dirinya tetap mengabdikan diri di sebuah sekolah swasta di Gunungkidul, yaitu di SMK Muhammadiyah Semin.

Karena ruang guru berada di lantai dua, tiap hari dirinya harus naik turun tangga. Ruang kelas yang jauh pun tak menjadi masalah baginya. Naik angkot pun dia jalani, bahkan  dirinya harus berjalan puluhan meter dari Terminal Semin menuju sekolah tempat dia mengajar. Begitulah keseharian sosok tua yang penuh semangat muda ini.

Baginya, menjadi guru adalah sebuah hal yang mulia karena berkaitan dengan nasib generasi muda. Hal itulah yang menjadi sebuah semangat Samidi untuk berkarya dan mendidik siswa-siswinya, seperti yang dia ungkapkan ketika ditemui KH, Selasa (25/11/2014).

“Saya pensiun tahun 2006, tapi tuntutan ilmu pengetahuan tidak ada pensiunnya. Selama saya masih dibutuhkan dan fisik masih sanggup, maka tak ada alasan untuk tetap mengajar dan berkarya,” jelasnya.

Peringatan hari PGRI setiap tahunnya menjadi moment yang berharga bagi semua guru di seluruh pelosok negeri ini. Upacara peringatan hari PGRI menjadi agenda besar yang tentunya membangkitkan semangat untuk menjadi pendidik yang berkualitas. Bagi Samidi, penyemangat tersebut tidak hanya ketika hari PGRI tiba. Dalam darahnya memang sudah mengalir semangat muda yang tak pernah habis.

“Hari ini saya tidak megikuti upacara karena fisik saya yang tidak memungkinkan lagi, tapi saya tetap hadir di sekolah. Semangat harus tetap mengalir demi mewujudkan generasi muda yang bermoral, berakhlak tinggi, berbudi luhur dan cerdas,” tambahnya.

Sebesar apapun jasa seorang guru, maka tak ada tanda jasa yang dia terima. Bahkan pembuat berita dan masyarakat yang membaca berita ini, berkat jasa seorang guru. Hal itulah, mengapa guru disebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. (Sidik/Tty)

Komentar

Komentar