Ria Silviani, Pemuda Pelopor Terbaik Ke-3 Nasional Bidang Pendidikan

oleh -
Ria Silviani, peraih Predikat Terbaik Ke-3 Nasional pemuda Pelopor Bidang Pendidikan. KH/ Kandar
iklan dispar
Ria Silviani, peraih Predikat Terbaik Ke-3 Nasional pemuda Pelopor Bidang Pendidikan. KH/ Kandar
Ria Silviani, peraih Predikat Terbaik Ke-3 Nasional pemuda Pelopor Bidang Pendidikan. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)– Dinobatkan sebagai Pemuda Pelopor terbaik ke-3 tingkat nasional membuat Ria Silviani bangga sekaligus senang. Gadis kelahiran Gunungkidul, 26 Juni 1990 ini mampu membawa nama baik daerahnya melalui kepeloporan di Bidang Pendidikan.

Ide yang diimplementasikan kedalam sebuah kegiatan yang bertujuan untuk menanamkan karakter anak melalui seni tari tradisional dan komtemporer ini mengundang banyak pertanyaan, seperti apa bentuk kegiatan dan karakter apa saja yang dapat diraih melalui kegiatan seni?

Saat ditemui di ruang Kantor Bidang Pemuda dan Olahraga (PO) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul, Ria, sapaan akrabnya, panjang lebar memaparkan apa yang telah dilakukan sehingga memperoleh prestasi tersebut.

“Sebenarnya yang saya ajukan mengikuti program kementrian PO adalah Satu Wadah Pendidikan Berjuta Warna, melalui sebuah sanggar yang tidak hanya berisi seni tari saja, ada lukis dan teater,” ungkapnya, Jum’at, (21/10/2016).

Ketiga seni tersebutlah yang dijadikan media untuk mendidik anak-anak untuk menghargai karakter bangsa, sehingga seni bukan tujuan utamanya, tetapi hanya sebagai alat saja. Sambung dia, banyak kegiatan yang dapat mendorong terciptanya karakter positif melalui sebuah sanggar.

Di Sanggar Seni RnB yang ia dirikan 2013 silam itu tidak hanya terpaku pada kegiatan seni saja, tetapi banyak kegiatan lain yang dipadukan, diantaranya dengan penyediaan pojok baca. Kegiatan membaca dapat dilakukan sebelum, pada saat istirahat dan sesudah menari.

“Kami buat juga kantin kejujuran, tujuannya mendidik anak untuk mandiri dan berkarakter jujur. Lalu ada juga tabungan impian, dimana setiap anak memiliki celengan untuk mengumpulkan uang yang di situ tertera nama dan impian masing-masing yang akan diwujudkan dengan hasil tabungan tersebut,” urainya.

Menurutnya, hal tersebut mampu menanamkan pendidikan kepada anak untuk menyiapkan masa depan. Ada pula, lanjutnya, beberapa permainan edukatif yang melengkapi kegiatan sanggar sebelum masuk ke materi inti seni yang dipelajari.

Tujuan dari pemainan edukatif tersebut untuk membangun konsentrasi anak, kemudian setelahnya apa yang akan dipelajari baik seni tari, teater dan lukis dapat dengan mudah diterima. Selain itu penanaman karakter yang memang diharapkan muncul murni dari pembelajaran seni juga ada.

“Pada jenis tari tertentu, gerak tari memiliki nilai dan pesan penanaman karakter bela Negara. Ada gerakan yang memicu sikap ketegasan, seperti gerak hormat, jalan di tempat dengan badan tegak, dan lain sebagainya,” ulasnya.

Disebutkan, memang ada pendidikan melalui program khusus pendidikan karakter ada pula yang diselipkan ke dalam silabus pembelajaran seni. Pemilik hobi menari ini diawal pendirian sanggar memang sendirian dalam mengelola dan mengisi kegiatan, namun karena keterbatasannya sehingga ia berfikir agar terus berkembang maka dibutuhkan rekan, kini ia dibantu oleh rekannya yang membidangi seni lukis dari ISI.

“Prinsip saya meski hanya sedikit ilmu, tetapi jika saya sebarluaskan maka akan berkembang,” tandas lulusan Sarjana Sastra Bahasa Indonesia yang malang melintang membawa nama sanggar mengikuti berbagai event seni ini. (Kandar)

Komentar

Komentar