Dalam perkembangannya, ancak atau gunungan tersebut juga dihias dengan aneka rupa pelengkap menjadi menarik, misalnya hijau dedaunan, lipatan janur, kertas warna-warni, dan sering kali di ujung tertingginya dipasang bendera merah putih Republik Indonesia (bandingkan merah-putih gula kelapa simbol panji-panji Majapahit). Ritual rasulan juga menjadi semakin meriah, karena gunungan atau ancak tersebut dijemput dan diarak ke balai pertemuan dengan iringan kesenian rakyat berupa reog atau jathilan yang berpentas di sepanjang perjalanan menjadi sebuah kirab keliling desa.
Kemeriahan acara rasulan bervariasi dan berkembang sesuai dengan kreativitas masing-masing masyarakat desa. Ada tradiri rasulan yang diselenggarakan secara sederhana hanya dalam lingkup dusun dengan acara pokok doa dan sedekah saja. Ada tradisi rasulan yang disertai dengan berbagai kegiatan yang menjadi ajang seluruh anggota masyarakat memperlihatkan eksistensi kebisaannya. Misalnya, rasulan diikuti dengan kegiatan olah raga (biasanya sepakbola, volley ball) dan pentas kesenian mulai dari kirab budaya seluruh warga mengikuti penyerahan gunungan ke balai desa, pentas atau beber reog atau jathilan atau doger sehabis doa dan sedekah, pentas ketoprak, pergelaran wayang kulit. Bahkan sudah ada rasulan dengan pentas seni musik modern atau musik dangdut. Untuk pergelaran wayang kulit, pada umumnya setiap desa sudah memiliki dalang langganan yang memang dirasa sreg oleh masyarakat untuk menutup rangkaian acara rasulan tersebut.
Hari Rabu Kliwon kemarin (10/6/2015), Desa Wonosari juga menyelenggarakan acara rasulan yang dipusatkan di Balai Desa Wonosari di Jl Pramuka Wonosari. Sebuah desa yang sejatinya letaknya telah berada di tengah pusat Kota Wonosari, dan sebagian besar warganya sudah bukan berprofesi sebagai petani tetap menjalankan ritual tradisi agraris secara besar-besaran, meriah dan masih penuh antusiasme. (http://kabarhandayani.com/bersih-desa-wonosari-2015-berlangsung-meriah/).
Reporter KH juga melaporkan, bahwa acara rasulan tersebut berlangsung sangat meriah dan lebih megah dari rasulan tahun sebelumnya. Dari beberapa informasi yang didapat, kirab budaya dalam rasulan Desa Wonosari justru lebih meriah dan lebih gayeng daripada kirab budaya HUT ke-184 Kabupaten Gunungkidul pada akhir Mei lalu. Dilaporkan, ada lebih dari 5.000 warga dari 7 padukuhan di Desa Wonosari turut terlibat dalam kirab rasulan tersebut. Ya, sebuah ritual tradisional yang masih memiliki magnitude yang ampuh.
Kirab budaya rasulan Desa Wonosari tersebut dimulai dari alun-alun Pemkab Gunungkidul, melewati Jl Katamso, kemudian melewati panggung kehormatan pejabat Pemkab di depan Pasar Argosari Wonosari, kemudian dilanjutkan melewati Jl Sumarwi menuju ke pusat acara rasulan di Balai Desa Wonosari di Jl Pramuka Padukuhan Pandansari. Aneka rupa atraksi dan kreativitas ditunjukkan oleh para peserta kirab yang terbagi dalam 7 padukuhan, yaitu: Madusari, Purbosari, Ringinsari, Pandansari, Gadungsari, Tawarsari, dan Jeruksari. Warna-warni aneka busana dikenakan oleh peserta kirab yang memainkan peran sesuai dengan penugasan yang diberikan oleh masing-masing panitia padukuhan.
Sebagian besar memakai kostum pakaian tradisional Jawa yang menggambarkan aneka kekayaan kegiatan tradisional yang ada di masing-masing padukuhan termasuk kesenian lokal. Ada pawai bergaya pasukan kerajaan. Ada padukuhan yang menampilkan senapati perempuan penunggang kuda dan diikuti barisan pasukan di belakangnya, dan lain sebagainya. Beberapa bagian tampak menampilkan seni pertunjukkan kontemporer dengan ciri kostum gaya bebas dengan berbagai atraksi untuk menarik perhatian peserta lain dan penonton.







