Produk Minuman Ekstrak Bikinan Alumni Buta Aksara Laku Hingga Papua

oleh -
Warga kelompok Aksara Green sedang melakukan penjemuran, salah satu tahapan pembuatan minuman ekstrak tanaman rimpang. KH
iklan dispar
Warga kelompok Aksara Green sedang melakukan penjemuran, salah satu tahapan pembuatan minuman ekstrak tanaman rimpang. KH
Warga kelompok Aksara Green sedang melakukan penjemuran, salah satu tahapan pembuatan minuman ekstrak tanaman rimpang. KH

PLAYEN, (KH)— Tak mudah berpuas diri dengan apa yang telah diraih, begitulah gambaran Siti Badriyah (49) warga Padukuhan Dengok V, Desa Dengok, Kecamatan Playen, Gunungkidul ini. Mendapat berbagai penghargaan baik di tingkat propinsi hingga kancah nasional tak membuatnya berhenti memberikan perhatian kepada lingkungan sekitar.

Peraih Kalpataru kategori pengabdi lingkungan tingkat nasional tahun 2012 ini melakukan terobosan untuk memberdayakan warga sekitar tempat tinggalnya. Ia membentuk wadah bernama Aksara Green yang berisikan 20 anggota.

Anggota tersebut adalah warga alumni program keaksaraan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang ia kelola. “Kami awalnya mengadakan kegiatan arisan saja untuk mengikat supaya kelompok yang terbentuk tidak bubar, kemudian saya mencoba mengajaknya membuat produk untuk meningkatkan perekonomian,” ujar Siti beberapa waktu lalu.

Niat awal tak muluk-muluk, keinginan dia minimnal produk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sendiri daripada mereka harus membeli. Berbekal pelatihan yang pernah ia terima mengenai pembuatan Kunir Mangga Instan, lantas ia kemudian mengembangkan sendiri menggunakan bahan yang lain.

Kini, ia bersama anggotanya telah menghasilkan 6 minuman ekstrak berbahan tanaman rimpang atau dikenal dengan sebutan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Selain bertugas sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Disdikpora Gunungkidul, ia juga disibukkan sebagai nara sumber berbagai workshop atas kepiawaiannya itu.

“Diantaranya adalah minuman serbuk jahe, secang, kunir asem, beras kencur, temu lawak dan kunir putih. Sebenarnya masih bisa membuat produk yang lain, tetapi produk yang ada akan kita maksimalkan terlebih dahulu pemasarannya,” jelasnya.

Berkat kegigihan pengenalan produk melalui berbagai kesempatan, produk Aksara Green sudah sampai Papua, Kalimantan, dan tidak sedikit pula yang laku di Jakarta. Baik saat mengikuti atau sebagai nara sumber kegiatan diklat tingkat propinsi atau nasional Siti membawa produk, kemudian tanpa canggung mempromosikannya.

“Dahulu warga perlu membeli teh dan gula, setelah memiliki kemampuan membuat produk ini sekarang beralih ke minuman ekstrak empon-empon, lebih murah, alami dan menyehatkan,” Imbuh Siti menyampaikan manfaat tambahan yang diperoleh warga.

Dalam kegiatan produksi dan pemasaran, sebagai ketua kelompok Siti tidak mengikat anggotannya, apabila ada yang mendapat pesanan secara pribadi ia mempersilahkan untuk memproduksi sendiri di rumah masing-masing.

“Tidak bertujuan dari sisi bisnis saja, yang terpenting masyarakat dapat mengimplementasikan apa yang kami pelajari bersama sehingga mereka lebih berdaya,” ucap ibu yang masuk dalam daftar tokoh “She Can” produk rumah tangga ternama ini.

Dilihat dari segi hasil ia menilai cukup menguntungkan, Dicontohkan, penjualan produk yang pernah dikirim ke Papua sebanyak 1.000 sachet hanya membutuhkan modal Rp. 400 ribu, padahal harga jualnya Rp. 1000 tiap sachet.

“Kita terus upayakan perbaikan kemasannya, sementara ini hanya menggunakan plastik polos,” kata Siti lagi. (Kandar)

Komentar

Komentar