Pranatamangsa Merupakan Budaya yang Perlu Dipertahankan

oleh -
Minggu Jawa. Sumber en Wikipedia.com
iklan dispar
Minggu Jawa. Sumber en Wikipedia.com
Minggu Jawa. Sumber en Wikimedia.org

GUNUNGKIDUL, (KH) — Bulan lalu, selama 6 hari secara beruntun Dewan Kebudayaan (DK) Gunungkidul menggelar sarasehan. Putaran terakhir dilaksanakan di Kecamatan Patuk, Wonosari dan Semanu. Sarasehan DK sedang difokuskan pada sosialisasi organisasi. Sementara, kultur petani belum tersentuh sama sekali.

“Kami memang sedang konsentrasi mensosialisasikan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Dewan Kebudayaan. Tetapi, bukan berarti terus mengabaikan yang lain.  Dewan Kebudayaan tetap memperhatikan seluruh aspek budaya yang hidup dan berkembang di kalangan masyarakat Gunungkidul,” kata Ketua Dewan Kebudayaan yang belum dikukuhkan CB Supriyanto, Senin,(06/04/2015).

Dari hasil penyelenggaraan sarasehan di 18 kecamatan, aspirasi yang muncul baru sebatas budaya dalam arti fisik (benda). Dewan Kebudayaan tingkat kecamatan umumnya mengeluhkan minimnya bantuan seragam kesenian, gamelan dan pelatihan pesinden serta dalang.

Menurut CB, keluhan seperti itu tidak salah, karena kegiatan tersebut merupakan salah satu aspek dari sekian elemen kebudayaan yang menjadi urusan warga. Tetapi, di beberapa daerah masyarakat secara sadar melakukan patungan untuk membeli alat-alat penunjang kegiatan kesenian dan kebudayaan.

“Hal itu klop dengan  pengertian kebudayaan,  sesuai UU No 12 tahun 2012, adalah hasil cipta, rasa, karsa dan karya berupa nilai, pengetahuan, norma, adat, termasuk karya leluhur yang berupa benda dan non benda yang mengakar di masyarakat DIY,” imbuhnya.

Saat ditanya tentang budaya dalam bentuk ilmu yang hidup segan mati tak mau seperti kultur pranatamangsa, CB Supriyanto menjawab singkat. “Itu masih ada dan harus tetap dilestarikan,” ucapnya.

Sementara itu, realitas di lapangan menunjukkan pranatamangsa tertutup oleh hinggar bingar pentas budaya yang ada. Selaku staff bidang Kebudayaan Disbudpar, Purnawan, membenarkan, hitungan pranatamangsa memang merupakan bagian dari kebudayaan dan harus tetap dilestarikan dan dijaga.

Ia menambahkan, secara material pranatamangsa urusan Disbudpar, tetapi secara implementatif merupakan tugas Dinas Pertanian Tanaman dan Holtikultura. Berbeda lagi jika pranatamangsa mau dipertahankan agar generasi muda tidak kehilangan kebudayaan, Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga juga mempunyai peranan di dalamnya

“Untuk budaya pranatamangsa akan kita bahas bersama dengan pihak yang terkait, di antaranya Disbudpar, DPTH dan Disdikpora,” jelas Purnawan. (Atmaja)

Komentar

Komentar