Petani Perlu Orientasi Pada Hasil

oleh -
Petani dengan ladang jagungnya. Foto : Kandar
iklan dispar
Petani dengan ladang jagungnya. Foto : Kandar
Petani dengan ladang jagungnya. Foto : Kandar

PALIYAN, (KH) — Sebagian besar petani di kawasan sebelah utara Suaka Margasatwa Paliyan memilih jagung sebagai tanaman utama di musim tanam pertama. Hal tersebut sudah dilakukan sejak sekitar 4 tahun terakhir. Sebelum itu petani kebanyakan menanam dengan sistem tumpang sari.

Salah satu petani, Mitro Sumarto menuturkan, pertanian dengan sistem menanam tumpangsari merupakan kebiasaan turun temurun. Seiring berjalannya waktu, perkembangan pertanian semakin maju. Rekayasa genetik yang dilakukan perusahaan penyedia benih dengan tujuan meningkatkan hasil panen terbukti berhasil.

Dia berpendapat, hasil juga dipengaruhi cara tanam, serta kesesuaian tanah dengan tanaman. “Menurut saya tanah di sekitar sini bisa saja ditanami padi, namun hasil kurang maksimal. Sudah beberapa tahun ini pada MH 1 hanya benih jagung dan ketela saja yang saya tanam,” katanya, Sabtu, (14/2/2015).

Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi resiko rugi, karena gagal panen; ditambah lagi sebagai upaya agar hasil jagung lebih maksimal. Jika ditanami padi, tambahnya, seandainya kekurangan air sedikit saja, hasilnya buruk. Kalau jagung masih bisa bertahan, sehingga dirinya hanya menanam jagung dan ketela.

Awalnya Ia mencoba dan sempat beberapa kali ganti produk benih. Saat ini dirinya mengaku sudah menemukan varietas jagung yang pas untuk ladangnya. Berdasar hasil, benih yang Ia tanam memiliki hasil lebih banyak dibanding benih lokal maupun merek lain.

“Jumlah hasil panen, pada kondisi normal untuk jumlah tertentu benih yang ditanam, terdapat selisih hasil. Misalnya benih lain atau lokal dapat 1 Ton, punya saya bisa mencapai 1 Ton lebih 150 Kg,” ungkapnya.

Di area tanah garapan miliknya saat ini masih ada sekitar 5 jenis produk benih yang ditanam oleh petani. Terkait hal itu petani memiliki alasan sendiri-sendiri. Harga benih, faktor kebiasaan, serta kesukaan masih menjadi alasan pemilihan benih.

Berdasar pengalamannya, Ia berpendapat, semestinya petani lain juga melakukan hal yang sama, borientasi pada hasil dengan mengikuti kemajuan. “Memperhatikan cara tanam dan sebaiknya berfikir ulang untuk memakai benih lokal serta selektif terhadap macam benih yang ada di pasaran, cari yang pas. Sekitar 20 hari lagi kami panen,” pungkasnya. (Kandar/Tty).

Komentar

Komentar