Petani Kembangkan Padi dan Sayuran dengan Sistem Aquaponik

oleh -
iklan dispar
Aquaponik
Aquaponik. Foto : Juju

PONJONG, (KH) — Perkembangan sistem pertanian terpadu mulai digalakan oleh sebagian petani di Kecamatan Ponjong Gunungkidul. Dengan memakai bahan organik, para petani di Desa Genjahan ini mulai membuat deplot untuk menanam tanaman padi dan sayuran dengan sistem aquaponik.

Perintis aquaponik, Riptanto (47) mengatakan, pertanian dengan sistem aquaponik sebenarnya cocok dikembangkan di wilayah yang memiliki lahan sempit. Di belakang rumahnya, pria asal Bandung Jawa Barat ini memanfaatkan kolam ikan untuk penyiraman aquaponik tersebut.

“Penyiramanya kita manfaatkan air dari kolam ikan yang kita putar dengan blower aquarium untuk mengairi tanaman yang kita gantung di atasnya. Tanpa harus menyiram satu persatu, air langsung menyiram dan masuk kedalam botol bekas air mineral,” katanya kepada KH di rumahnya, akhir pekan lalu.

Riptanto menggunakan media sekam dan kotoran ayam untuk mengganti tanah. Selain tanaman lebih mudah tumbuh, media tersebut dapat memperlancar sirkulasi air yang mengalir dari botol satu ke botol lainya.

“Jadi, saling menguntungkan; kotoran ikan yang terbawa naik akan menjadi pupuk bagi tanaman, sedangkan sari-sari makanan dari tumbuhan akan menjadi pakan ikan. Jadi, kita sama sekali tidak menggunakan campuran bahan kimia,” bebernya.

Menurut perhitungan Riptanto, menanam padi dengan sistem aquaponik lebih irit biaya dan waktu. Untuk menanam dengan ukuran 1000 meter persegi sawah, ia hanya membutuhkan 1250 biji botol air mineral. “Lama masa tanamnya sama dengan padi yang ditanam di sawah,” terangnya.

Saat ini, di desa tersebut dikembangkan empat demplot, di Dusun Kerjo 2 di lahan  miliknya, kemudian di Dusun Simo 2, Susukan 1, serta Susukan 3. ”Selain padi, terlebih dahulu sudah kita kembangkan sayur-sayuran. Semua kita bikin aquaponik,” lanjut dia.

Dia juga terus menularkan ilmu tersebut, sehingga diharapkan Desa Genjahan Ponjong menjadi salah satu desa aquaponik yang menyajikan sayuran organik dan juga perikanan organik. ”Namun, kendala kita memang harga masih kita jual sama dengan sayuran lain, dan kontinuitasnya belum bisa diandalkan,” ulasnya.

Setelah ada perkembangan tanaman organik di Desa Genjahan, pihaknya baru menyiapkan cara menggandeng super market, sehingga tanaman yang dihasilkan bisa memiliki nilai jual yang lebih tinggi. ”Namun itu konsep jangka panjang. Sekarang kita berusaha merutinkan produk terlebih dahulu dan mengenalkan sistem ini,” lanjut Riptanto.

Untuk panen pertama beberapa waktu yang lalu, pihaknya berhasil menjual sawi organik dan juga seledri serta kangkung. Namun demikian, hasil panen masih dijual ke pasar tradisional di Ponjong saja. (Juju/Tty)

Komentar

Komentar