Nikmatnya Sarapan Nasi Bungkus Daun Jati Bikinan Wagirah

oleh -
Nasi
Wagirah sedang melayani pembeli. (KH/ Kandar)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Di Gunungkidul banyak terdapat pasar tradisional. Di pasar tradisional, selain dijual aneka kebutuhan sembako, biasanya terdapat penjaja kuliner. Diantaranya pun dibikin dengan cara tradisional. Seperti di Pasar Banaran, Playen, Gunungkidul. Di pasar ini ada penyedia menu sarapan nasi bungkus yang senantiasa diburu pelanggan.

Keunikan yang barangkali tak banyak terdapat di kota besar yakni bahan pembungkusnya. Bahan pembungkus nasi yang dilengkapi sayur cabai, mie, gudeg, gudangan, baceman tahu tempe dan tumis kulit melinjo ini menggunakan daun jati.

Dewasa ini, kuliner lokal khas desa makin digandrungi seiring masifnya penggunaan media sosial. Buktinya, netizen atau influencer yang memposting konten jajanan kuliner tradisional semacam nasi bungkus daun jati ini kerap mendapat banyak respon positif. Konten reels pun viral.

Penikmatnya datang dari berbagai kalangan usia. Mereka yang berusia tua, genrasi milenial hingga gen z kebanyakan menyukainya. Para penikmat mengaku, makan nasi yang dibeli di pasar tradisional selalu saja terasa nikmat. Bahkan bikin nagih. Sebagian yang lain menyukainya bukan sebatas pada rasanya, akan tetapi membeli sebagai sarana nostalgia. Sebagaimana diketahui, dulu, nasi bungkus daun jati di pasar tradisional kerap menjadi oleh-oleh orang tua bagi anaknya selepas pulang dari pasar.

Layak jadi sarana merepetisi kebiasaan zaman dulu. Sebab, keberadaan menu yang sedianya dijadikan sebagai sarapan ini telah ada sejak lama. Seperti kata penjual di Pasar Banaran, Wagirah. Warga Banaran, Playen ini mengaku merintis berjualan menu sarapan di pasar tradisional di wilayahnya sejak tahun 1982.

“Sudah sejak lama. Buka di sini (Pasar Banaran) tiap hari pasaran Kliwon dan Pahing,” tuturnya sembari melayani pembeli.

Beli di lapak Wagirah haruslah berbekal sabar. Sebab, sering terjadi antrian pembeli. Apalagi saat hari masih pagi.

Dia membuka lapak dan siap melayani sejak pukul 04.30 WIB. Tak butuh lama, aneka olahan termasuk nasi satu bakul ludes dibeli.

Sesekali ia dibantu ibunya. Meski sudah renta, ibunya masih cukup cakap memasang karet pada pembungkus nasi. Sesekali mengambilkan tempe dan tahu goreng permintaan pembeli.

“Tiap jualan selalu memasak 10 kilogram beras. Kalau jumlah yang terjual ratusan bungkus,” imbuh Wagirah.

Orang-orang yang menjadi pelanggan terkadang juga tak sebatas berminat karena rasanya yang nikmat. Akan tetapi tertarik pula dengan harga nasi bungkus yang sangat terjangkau.

“Mulai Rp6 ribu, tergantung lauknya,” tuturnya.

Salah satu pelanggan, Fitria mengungkapkan, tiap pulang ke rumah mertua selalu mengincar hari yang bertepatan dengan waktu Wagirah berjaualan.

“Pokoknya selalu membeli nasi bungkus daun jati ini tiap pulang ke Gunungkidul,” ujar dia. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar