Petani Diuntungkan Dengan Turunnya Harga Ternak

oleh -
iklan dispar

PLAYEN,(KH)— Hampir satu bulan pasca hari raya Idul Adha, harga sapi dan kambing di Pasar Hewan Siyonoharjo Playen mengalami penurunan drastis. Selain musim penghujan yang belum datang, sepinya pembeli juga disinyalir memberikan pengaruh turunnya harga sapi dan kambing. 

“Pengunjung yang sepi membuat para blantik sapi (penjual sapi) merugi, karena akhir-akhir ini kami selalu membawa kembali dagangan karena tidak laku,” ungkap Lasiman seorang blantik asal Semanu yang ditemui KH di Pasar Hewan Siyonoharjo Sabtu (01/11/2014).

Menurut Lasiman, terkait penurunan harga sapi tersebut karena sebagian hasil hewan kurban yang tidak terjual habis dan musim susah untuk mencari pakan ternak. “Karena sulitnya mencari pakan ternak banyak masyarakat yang menjual sapi dan kambing namun yang membeli justru menurun,” katanya. 

Lasiman sendiri belum berhasil menjual sapi jantannya yang dijuall dengan harga Rp 10,5 juta. “Padahal seminggu sesudah Idul Adha sapi yang kami bawa masih eksis di harga Rp 13 juta,” imbuh Lasiman. 

Baik sapi Jawa maupun Simetal mengalami penurunan harga sapi yang berkisar antara Rp 2 juta sampai dengan Rp 3,5 juta. Imbasnya para blantik sapi harus mengalami kerugian baik operasional maupun memelihara sapi kembali sampai pada pasaran sapi berikutnya. 

Seperti halnya Adisuwarno blantik sapi asal Kemadang Tanjungsari yang mengaku sudah dua kali pasaran harus membawa pulang sapinya karena belum laku terjual. “Untuk sapi yang besar jika sudah lama tidak laku dijual di pasar harus dijual ke jagalan walaupun masih rugi,” ujar Adi. 

Hari ini Adi sendiri hanya membawa 2 ekor sapi karena dirinya enggan berspekulasi untuk membawa banyak sapi. “Sebagian saya tampung di rumah, membawa dua saja sulit memasarkannya,” imbuhnya. 

Sementara itu Tarsono salah satu petani asal Desa Banyusoca Playen mengungkapkan jika dirinya selalu memantau harga sapi pasca Idul Adha baik di pasar sapi Siyonoharjo maupun di pasar sapi Munggi Semanu. Tarsono membeli sapi seharga Rp 10 juta. “Saya selalu membeli sapi kembali setelah menjual sapi saat kurban,setelah dipelihara setahun kemudian pada Idul Adha tahun depan dijual kembali,” katanya 

Setiap seminggu sampai satu bulan setelah Idul Adha ia selalu memantau harga terlebih dahulu. Karena jika tidak dipantau terlebih dahulu bisa-bisa malah kena tipu, harga yang sudah turun dijual dengan harga selangit. 

Lebih lanjut ia menjelaskan agar petani tidak mengalami kerugian ketika akan membeli ternak, petani harus memantau harga pasaran dahulu sebelum membeli sapi maupun kambing. “Agar tidak terjadi lagi ungkapan jika menjual murah namun setiap membeli mahal,” pungkasnya. (Atmaja/Bara)

Komentar

Komentar