Pertemuan Jaringan Ekowisata Indonesia 2015 “Memperkuat Pariwisata Berbasis Masyarakat Menuju Aksi yang Berkelanjutan”

oleh -
Temu Ekowisata. Foto : Jodhy.
kadhung tresno
Temu Ekowisata. Foto : Jodhy.
Temu Ekowisata. Foto : Jodhy.

PATUK, (KH) — Pengembangan pariwisata berbasis masyarakat sebagai salah model pengembangan; sesungguhnya dapat memberikan kontribusi penting bagi pengembangan pariwisata secara berkelanjutan di Indonesia.

Pertemuan jejaring ekowisata yang digagas oleh Yayasan Indecon yang dilakukan tiap tahun; untuk media pembelajaran bagi semua pelaku agar dapat diperluas dan diperkuat menjadi sebuah aksi yang berkelanjutan oleh dan untuk masyarakat.

Pariwisata Berbasis Masyarakat (Community Based Tourism) telah berkembang lama di Indonesia, bahkan sebelum Indonesia mengenal istilah ekowisata. Pada era Tahun 1980-an telah dikenal istilah Pariwisata Inti Rakyat (PIR), di mana masyarakat menjadi pelaku utama dari usaha pariwisata. Pariwisata berbasis masyarakat seharusnya menjadi salah satu pilihan bagi pemerintah Indonesia untuk pengembangan kepariwisataan Indonesia, karena sumber daya alam dan budaya yang merupakan daya tarik utama; melekat dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Perkembangan Pariwisata Berbasis Masyarakat di Indonesia sudah cukup lama, akan tetapi sejauh apa pariwisata berbasis masyarakat telah berkontribusi untuk memperbaiki pariwisata di Indonesia; selalu menjadi hal yang menarik untuk dipelajari dan dibagi.

Berdiri pada tahun 1995, Indecon adalah organisasi nirlaba yang bergerak dalam pengembangan dan promosi ekowisata di Indonesia. Para pelaku pengembangan ekowisata di Indonesia saling terhubung dalam suatu komunitas jejaring ekowisata Indonesia. Sejak Tahun 2007, Indecon menginisiasi pertemuan tahunan untuk komunitas jejaring ekowisata Indonesia. Pertemuan ini dimaksudkan untuk mempelajari isu kunci, tantangan, dan faktor sukses pengembangan untuk memperkuat pariwisata berkelanjutan, khususnya pariwisata berbasis masyarakat di Indonesia. Tahun ini, kegiatan pertemuan jaringan diadakan di Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Desa Nglanggeran, kec.Patuk, Kab.Gunungkidul, D.I.Yogyakarta pada Bulan Februari 2015.

Pertemuan jaringan ekowisata Indonesia kali ini bertujuan untuk:

1. Meningkatkan pengetahuan pelaku ekowisata berbasis masyarakat, melalui tukar menukar informasi, pengetahuan dan pengalaman dalam pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat.

2. Memperkuat jejaring ekowisata Indonesia dalam hal komunikasi, dan promosi CBT.

3. Mendokumentasikan pengalaman pengelolaan daya tarik berbasis masyarakat.

4. Mempertemukan pengalaman praktis dari praktisi dan teori dari akademisi.

Potjana Suansri (Community Based Tourism Intiative – CBT-I Thailand), seorang pelaku dari Thailand yang telah berkiprah lebih dari 20 tahun mengembangkan pariwisata di ASEAN hadir sebagai pembicara utama. Beliau mengatakan, bahwa strategi kunci untuk pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Thailand khususnya dan di ASEAN umumnya adalah Masyarakat, Persiapan, Partisipasi, dan Mitra (4P People-Preparation-Participation-Partner).

“Daya jual utama dari produk pariwisata berbasis masyarakat adalah interaksi yang asli antara wisatawan dan masyarakat,” papar Potjana SuanSri.

Potjana menambahkan , akan tetapi produk tersebut harus disesuaikan dengan selera pasar yang diinginkan oleh masyarakat. (setelah dialih bahasakan)

Acara ini juga diisi oleh pembicara mewakili lembaga-lembaga pengelola pariwisata berbasis masyarakat dari seluruh Indonesia; antara lain Juan Kartika Sitepu dari Lembaga Pariwisata Tangkahan (LPT), Yosef Katup dari Lembaga Pelestari Budaya Waerebo (LPBW), dan Tatag Sariawan dari Koperasi Desa Wisata Candirejo. Beberapa lembaga donor juga menghadiri acara ini, yaitu Uni Eropa dan Yayasan Kehati. Kegiatan ini sangat diminati oleh berbagai pelaku pariwisata, terlihat dari jumlah peserta  yang melebihi 100 orang; meliputi berbagai pihak seperti masyarakat desa, lembaga pengelola, pemerintah daerah, lembaga donor, biro perjalanan wisata; yang mewakili berbagai destinasi mulai dari Sumatera Utara, Jawa, Kalimantan Barat-Tengah-Timur, Sulawesi, Flores, Papua, dan sebagainya.

“Saya lihat pertemuan seperti ini sangat positif manfaatnya bagi pengembangan pariwisata di Indonesia. Masyarakat bisa belajar secara langsung dari pengalaman masyarakat di tempat lain,” kata Nur Isravivani yang mewakili Delegasi Uni Eropa untuk Brunei, Indonesia, dan ASEAN.

“Buat Uni Eropa sendiri, kami senang sekali berkesempatan untuk mensosialisasikan tentang berbagai dukungan Uni Eropa buat organisasi masyarakat sipil Indonesia,” imbuh Nur isravivani

Pengelola Gunung Api Purba Sugeng Handoko menyampaikan, selaku pengelola kawasan ekowisata Gunung Api Purba merasa senang dan bangga dengan terselenggaranya kegiatan ini di Desa Nglanggeran. Karena bisa berjejaring dengan para pelaku ekowisata se Indonesia.

“Selain dapat terselenggara di Nglanggeran, kami mendapat banyak ilmu baru yang kami dapatkan untuk bisa mengembangkan Nglanggeran lebih baik lagi,” ujar Sugeng Handoko

Indecon sebagai penggagas pertemuan ini berharap bahwa pertemuan ini menjadi awal dari pengguatan kapasitas berbagai pihak, Proses pembelajaran yang berlangsung secara informal tetapi berisi diharapkan bisa menjadi model pertemuan berbagai pengalaman; dimana pengalaman tersebut bisa mendorong pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Indonesia menjadi lebih baik.

Berkumpul para pelaku penggiat ekowisata se Indonesia di Kawasan Ekowisata Gunung Api Purba Nglanggeran selama 3 hari. Kegiatan dilakukan mulai tanggal 9-11 Februari 2015. Kegiatan ini diikuti oleh 105 peserta dengan peserta menginap di homestay sebanyak 96 orang. Selebihnya merupakan peserta yang berasal dari sekitar jogja sehingga tidak menginap.

Pertemuan ini dimaksudkan untuk mempelajari isu kunci, tantangan, dan faktor sukses pengembangan untuk memperkuat pariwisata berbasis masyarakat dan pariwisata berkelanjutan di Indonesia. (Jhody/Tty)

Komentar

Komentar