Peringati Hari Tuberkulosis, Dinkes : Batuk Lebih dari Dua Minggu Periksalah ke Dokter

oleh -
Tuberkulosis
Kepala Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawaty menyerahkan penghargaan kepada puskesmas yang berprestasi dalam penanganan Tuberkukosis. (KH)
iklan golkar idup fitri

GUNUNGKIDUL, (KH),– Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul menyelenggarakan sarasehan peringatan Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia, Rabu, (30/3/2022). Tak hanya sarasehan, menjadi rangkaian peringatan TB, sebelumnya juga dilaksanakan penyerahan bantuan ke penderita TB, workshop bersama dokter dan programmer dan kader, pembinaan dan edukasi ke Pos kesehatan Ponpes, serta lomba video dengan tema TB.

Kepala Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawaty menyampaikan TB merupakan penyakit kronis yang sulit ditangani. Penyakit akibat bakteri TB tersebut selain susah ditemukan, pengobatannya juga butuh waktu berdurasi panjang.

“Untuk TB Sensitif Obat (TBSO) butuh minimal 6 bulan, sementara TB Resisten Obat (TBRO) butuh 9 bulan hingga 1,5 tahun,” ungkapnya disela sarasehan di Taman Budaya Gunungkidul (TBG).

Selama proses pengobatan, penderita harus periksa dan minum obat secara rutin. Untuk itu, dibutuhkan konsistensi dan kesabaran pasien termasuk keluarganya.

Dewi menuturkan pemerintah telah menyediakan fasilitas kesehatan dan obat gratis guna penanganan TB. Banyaknya obat yang dibutuhkan membuat alokasi pembiayaan cukup banyak. Terlebih bagi penderita TBRO.

“Selain butuh banyak, kasus TBRO juga butuh obat generasi baru. Praktis memberi dampak perekonomian bagi negara karena alokasi anggarannya meningkat. Bagi penderita sendiri juga berdampak ekonomi, sebab, ia tak bisa produktif,” ungkap Dewi.

Selain dampak kesehatan dan ekonomi, TB juga menghadirkan dampak sosial. Seperti diketahui, saat ini masih ada warga yang mendiskriminasi penderita.

“Maka, peringatan TB menjadi agenda rutin untuk terus meningkatkan kesadaran publik tentang konsekuensi kesehatan, sosial, dan ekonomi dari penyakit TB,” tandas Dewi.

Dinkes Gunungkidul
Kepala Dinkes Gunungkidul, Dewi Irawaty. (KH)

Lebih jauh disampaikan, TB masih menjadi persoalan serius bagi negara. Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar menempati urutan peringkat 3 dunia dalam hal jumlah kasus TB.

Dalam rangka penanganan skala daerah, selain dibutuhkan kepatuhan pasien, Dewi juga meminta keterlibatan semua lapisan masyarakat. Dia tidak ingin stigma buruk terhadap penderita terus-menerus terjadi. Sebab, hal tersebut dapat mengganggu kepatuhan pasien.

“Pasien ada yang tak leluasa periksa ke dokter atau enggan dikunjungi pihak medis karena malu. Padahal jika tidak segera diobati justru sangat berisiko menular,” imbuhhnya.

Agar mudah diketahui dan ditangani, Dewi meminta masyarakat secara mandiri dan sukarela periksa ke dokter apabila mengalami batuk lebih dari dua minggu. Tak hanya meminta kesediaan masyarakat, dia juga melibatkan kader dan programmer kesehatan di tiap puskesmas untuk terus ikut memantau kondisi kesehatan masyarakat. Kader yang sebelumnya telah diberi pembekalan pengetahuan, agar melaporkan ke puskesmas setiap ada warga yang dicurigai menderita TB.

Dia menegaskan masyarakat masih butuh sosialisasi dan edukasi mengenai TB agar menujang kesuksesan penanganan TB.

Senada dengan Dewi, Bupati Gunungkidul Sunaryanta mengakui bahwa pemahaman ke maayarakat sangat diperlukan.

“Penyakit ini sudah ada sejak lama, namun masih banyak warga yang belum memahaminya,” kata Sunaryanta.

Menurutnya, pencegahan dan pengobatan butuh kolaborasi antara fasilitas kesehatan dan masyarakat.

Berdasar data yang dimiliki Dinkes, tahun 2021 di Gunungkidul ada 266 penderita TB. Dari 266 kasus itu tidak ada yang putus pengobatan.

Sementara itu, penelusuran melalui deteksi dini untuk mengetahui jumlah penularan berikut penanganannya tahun ini diakui tidak optimal karena munculnya Pandemi COVID-19.

Tuberkulosis
Bupati Sunaryanta dan Dewi Irawaty berfoto bersama dengan penerima penghargaan. (KH)

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM), Dinkes Gunungkidul, Diah Prasetyorini mengungkapkan tahun 2020 penemuan kasus TB sampai 26 persen dari jumlah total yang diperiksa, namun 2021 lalu hanya sampai pada 12 persen.

Pihaknya menerangkan, sejauh ini yang paling umum muncul yakni TB yang menyerang paru-paru. Dari sekian kasus, penularan terjadi di lingkup keluarga dan lingkugan terdekat.

“TB menular melalui dahak, gejala yang umum muncul yakni batuk. Maka pesan kami, jika batuk lebih dari dua minggu silahkan periksa,” tegasnya.

Dalam agenda puncak peringatan TB Sedunia, Dinkes Gunungkidul memberikan sejumlah penghargaan. Penghargaan dimaksudkan untuk memberi dukungan dan motivasi kepada fasilitas kesehatan, kader, dan masyarakat umum untuk terlibat aktif dalam penanganan TB.

Beberapa penghargaan diantaranya diberikan kepada Puskesmas Girisubo sebagai fasilitas kesehatan dengan penemuan suspek terbanyak, Puskesmas Wonosari dua dengan prestasi penemuan kasus terbanyak, Puskesmas Panggang II dengan capaian Standar Pelayanan Minimal TB terbaik. Penghargaan juga diberikan kepada kepada Suyanti, kader asal Ngawen dan Suliyem asal Gedangsari sebagai kader teraktif. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar