Gerdu Centini: Gerakan Cegah Stunting Sejak Dini di Gunungkidul

oleh -
Stunting
Deklarasi pencegahan stunting ditandai penandatanganan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda) Gunungkidul. (KH/ Kandar)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Pencegahan stunting perlu dilakukan sedini mungkin. Demikian ditegaskan Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawati pada saat deklarasi Gunungkidul Terpadu Cegah Stunting Sejak Dini (Gerdu Centini), Selasa (6/7/2022) di Wonosari.

Menurut dia, pencegahan gagal tumbuh karena anak kekurangan gizi perlu dilakukan sejak awal. Bukan hanya pada saat ibu hamil. Akan tetapi mundur ke periode lebih awal, yakni sejak saat calon ibu berusia remaja.

“Program pencegahan ada pada sektor non kesehatan dan kesehatan. Bidang kesehatan jelas diantaranya edukasi ke masyarakat seputar kesehatan. Termasuk tindakan pemberian tablet tambah darah supaya tidak anemia kepada yang berisiko, pemeriksaan kehamilan lengkap sampai nifas, dan lain-lain,” terang Dewi.

Selanjutnya mulai anak lahir dilanjutkan pada fase perkembangan hingga anak berusia 5 tahun terus dipantau oleh Organisasi Perangkat Derah (OPD) bidang kesehatan.

Jika saja, lanjut Dewi, memang telah terjadi stunting pada anak, tentu instansi bidang kesehatan memberikan tindakan atau intervensi dengan pemenuhan gizi dilakukan.

Dewi mengungkapkan, di luar bidang kesehatan, dalam rangka pencegahan sebetulnya perlu lebih banyak program dan tindakan yang dilakukan. Keberhasilan pencegahan stunting menurutnya justru ada pada tindakan non kesehatan.

“Pendidikan pada anak perlu dioptimalkan, setidaknya sejak SMP. Harus diberi pemahaman bahwa nikah dini tidak akan menguntungkan. Banyak risiko yang harus dihadapi,” terang Dewi.

Dewi memaparkan, jamak diketahui, pernikahan dini terjadi karena dispensasi. Misalnya hamil duluan. Maka perlu pula edukasi bahwa nikah dini atau sex pra nikah tidak baik. Pun begitu bagi pasangan menjelang pernikahan, kesiapan ekonomi keluarga tidak boleh diabaikan. Bagaimana menyiapkan agar perekonomian calon keluarga baru lebih siap jelas butuh peran OPD lain, seperti yang membidangi pertanian, peternakan, UMKM, dan sebagainya.

“OPD yang berkonsentrasi pada peningkatan kesejahteraan dibutuhkan kehadirannya. Tidak ketinggalan keterlibatan semua lembaga pemerintah, seperti kalurahan, kapanewon bahkan Kemenag harus turut berkontribusi,” tandas Dewi.

Dia mengakui, kemiskinan merupakan salah satu faktor risiko terjadinya stunting. Dari amatan sekilas, tingkat kemiskinan cenderung linier dengan angka atau jumlah stunting di suatu wilayah.

“Ketersediaan atau asupan gizi dari makanan baik kepada ibu hamil dan anak saat tumbuh kembang bisa mempengaruhi tinggi rendahnya risiko stunting,” jelas Dewi.

Untuk itu, dalam deklarasi Gerdu Centini, Dinkes mengajak banyak pihak agar turut berkontribusi mengupayakan agar anak yang lahir tidak stunting.

Stunting
Kepala Dinas Kesehatan, Dewi Irawati menyampaikan landasan perlunya deklarasi pencegahan stunting. (KH/ Kandar)

Adapun yang hadir pada deklarasi diantaranya seluruh OPD, Panewu, lurah, dan kepala UPT Puskesmas. Bersamaan dengan deklarasi, dipaparkan pula mengenai kisah dan kiat keberhasilan pencegahan stunting oleh nara sumber, Prof. Dr Hamam Hadi, MS., Sc.D., Sp.GK. Sosok yang punya pengalaman berhasil mencegah stunting ini merupakan rektorĀ UniversitasĀ Alma Ata.

Dewi juga mengungkapkan, jumlah anak di Gunungkidul pada tabun 2021 yang mengalami stunting masih ada 4.520 anak. Jumlah tersebut menurun dibanding tahun sebelumnya.

Bupati Gunungkidul Sunaryanta berharap, usai deklarasi semua pihak berkokitmen mengoptimalkan perannya diantaranya dalam rangka mencegah stunting.

Dia tak menampik jumlah angka anak stunting di Gunungkidul fantastis dibanding kabupaten dan kota lain di DIY. Untuk itu, sebagaimana substansi deklarasi, dibutuhkan semua pihak untuk turut melakukan intervensi.

“Kolaborasi berbagai lembaga serta bidang sangat dibutuhkan. Pencegahan stunting harus menjadi tujuan bersama,” ujar Sunaryanta.

Dia pun menyatakan setuju pencegahan stunting dilakukan sejak dini. Sejak SMP anak harus dibekali pendidikan yang optimal, mendapat sasaran program bidang perekonomian serta mudah mengakses layanan kesehatan. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar