Pentas Group Reog di Jelok Selalu Dimulai dari Sumur Tua Mbah Jo Pawiro

oleh -
Sumur tua Mbah Jo Pawiro selalu dirawat masyarakat setempat. Foto: Atmaja.
iklan dispar
Sumur tua Mbah Jo Pawiro selalu dirawat masyarakat setempat. Foto: Atmaja.
Sumur tua Mbah Jo Pawiro selalu dirawat masyarakat setempat. Foto: Atmaja.

PATUK,(KH) — Masyarakat di Kabupaten Gunungkidul masih setia menjaga dan melestarikan tradisi sebagai jalan menjaga kelestarian lingkungan. Seperti pantauan KH di Padukuhan Jelok Desa Beji Kecamatan Patuk, terdapat sebuah sumur tua dan pohon beringin yang dijaga dan dirawat oleh warga Padukuhan Jelok.

Beberapa warga yang sedang memiliki hajat sampai saat ini masih melakukan tradisi kirim berkat di tempat tersebut. Sukri, salah satu warga Jelok mengatakan, hal itu dilakukan warga sebagai bentuk melestarikan tradisi yang ada. “Dulu terdapat sebuah pohon beringin besar di belakang sumur tersebut. Pohon beringin tersebut tumbang pada tahun 2006 yang lalu,” imbuh Sukri (37), warga Jelok, Selasa (10/3/2015)

Ia juga memaparkan, pada setiap ada acara pertunjukan juga selalu dilaksanakan tradisi kulo nuwun di tempat tersebut. Tradisi tersebut dilakukan sebelum dimulainya pertunjukan seperti reog maupun jathilan.

“Ketika saya masih kecil, di dekat sumur terdapat pohon beringin besar yang membuat tempat tersebut teduh. Warga menjaga kebersihan di tempat tersebut karena sumur mbah Jo Pawiro digunakan untuk keperluan mengambil air untuk diminum warga maupun keperluan lainnya,” ujarnya

Ia menambahkan, warga yang tinggal di sekitar sumur Mbah Jo Pawiro juga selalu menjaga kebersihannya. Sampai saat ini warga patuh tidak membuang air kecil, meludah maupun membuang sampah sembarangan di sumur Mbah Jo Pawiro. Masyarakat menghormati keberadaan sumur tersebut sebagai wujud pengakuan bahwa air sumur itu telah mengantar kehidupan warga masyarakat Jelok selamat sampai saat ini. (Atmaja).

Komentar

Komentar