Penilaian Pemudik Tentang Terminal Dhaksinarga

oleh -
iklan dispar

WONOSARI,kabarhandayani,– Jauhnya rute Terminal Dhaksinarga membuat sebagian pemudik yang menggunakan armada bus dari daerah selatan Kabupaten Gunungkidul mengeluh saat hendak menuju terminal bus yang tergolong masih baru tersebut.
Sarno (48), warga Desa Kanigoro, Saptosari harus menempuh waktu dua jam saat ingin menuju Terminal Dhaksinarga . Sarno mengungkapkan selain waktu tempuh yang lama, susahnya mencari kendaraan di daerah selatan membuatnya harus bersiap lebih awal ketika ingin berpergian menuju terminal Dhaksinarga. “Padahal waktu tempuh Wonosari-Jogja jika menggunakan bus tidak sampai satu jam,” ujar Sarno, Kamis (07/08/2014).
Kepada KH, Sarno menambahkan, selain jarak terminal yang baru lebih jauh, kendaraan mini bus juga sering berhenti di terminal bayangan seperti di Kecamatan Paliyan. Para sopir berhenti beberapa menit untuk menunggu penumpang. “Dari Saptosari menuju Paliyan saja sudah menghabiskan waktu setengah jam, belum lagi menunggu penumpang dari Paliyan,” ungkapnya.
Keberadaan terminal baru yang berada di Selang tersebut dianggap kurang efisien oleh sebagian masyarakat Gunungkidul. Pasalnya mereka susah, jika hendak mencari oleh-oleh atau sekedar belanja di pasar, karena jarak terminal baru dengan pasar Argosari cukup jauh. Menurut masyarakat, lokasi terminal lama sangatlah strategis dekat dengan pasar dan aksesnya tidak muter-muter. Tidak jarang masyarakat yang akan berpergian selalu berbelanja terlebih dahulu ke pasar dengan berjalan kaki.
Seperti halnya Ratmi (42), ia mengaku harus bolak-balik naik bus saat hendak ke Jakarta. Ibu dua anak asal Rongkop itu harus berganti bus dari Rongkop menuju terminal, kemudian dari terminal menuju pasar saat ingin membeli oleh-oleh di Pasar Argosari. “Sekarang ribet jika sebelum berangkat ke Jakarta hendak mencari oleh-oleh. Saat terminal masih di Baleharjo, jika hendak mencari oleh-oleh cukup berjalan kaki saja sudah sampai ke Pasar Argosari,”paparnya.
Namun disisi lain, perpindahan terminal memberikan efek positif bagi sejumlah masyarakat, karena sebelum terminal pindah, setiap lebaran parkir kendaraan pribadi sangat penuh sesak bahkan kadang memakan badan jalan dan membahayakan pengguna jalan. Selain itu, terminal lama juga kurang mampu menampung armada bus yang bertambah saat musim lebaran.
Yanto (37), warga Desa Sodo mengungkapkan, keberadaan terminal yang baru ini sudah sangat tepat, karena semua dapat ditata rapi, ada lahan parkir dan halaman parkir bus yang luas. Ia mengaku sangat tidak nyaman pada saat arus balik dari terminal lama karena penuh sesak dan tidak tertata rapi.
“Saat musim mudik pun kondisi terminal tidak semrawut seperti di terminal sebelumnya, parkir tertata rapi, ruang tunggu yang luas membuat kenyaman saat penumpang menunggu kendaraan,” tutur Yanto. (Atmaja/Tty)

Komentar

Komentar