Pengrajin Gamelan Kecipratan Berkah Geliat Pentas Budaya

oleh -
Pengrajin gamelan dari Kajar Karangtengah Wonosari. KH/Kandar.
iklan dispar
Pengrajin gamelan dari Kajar Karangtengah Wonosari. KH/Kandar.
Subari, pengrajin gamelan dari Kajar Karangtengah Wonosari sedang menyetel gamelan. KH/Kandar.

WONOSARI, (KH)— Dengan adanya alokasi danais sebagai realisasi UU Keistimewaan bagi Desa Budaya, Rintisan Desa Budaya maupun Desa Kantong Budaya sedikit banyak telah menumbuhkan kembali gairah berkesenian. Banyak kelompok yang tadinya seakan mati suri kembali berkreasi.

Hal tersebut membuat pengrajin gamelan bisa tersenyum lagi, lantaran jasa pembuatan dan perbaikan berbagai piranti alat musik gamelan lebih aktif lagi beroperasi. Seperti halnya Subari, pengrajin gamelan warga Padukuhan Kajar 1, Desa Karangtengah, Kecamatan Wonosari ini mengaku usahanya menggeliat lagi sejak dua tahun terakhir.

“Usaha sejak tahun 1995 yang saya rintis awalnya sebenarnya lebih dominan merupakan jasa las dan pande besi, pembuatan gamelan sampingan saja,” katanya saat ditemui di tempat produksinya, Kamis, (23/4/2015).

Setelah dirasa ada peluang yang cukup baik, ia lebih fokus untuk jasa pembuatan dan pembetulan gamelan saja. Sekitar tahun 1997 ia merasa usahanya semakin bergairah dan seperti berada di puncaknya, tak tanggung-tanggung, melayani pesanan sebanyak 60 set gamelan lengkap untuk warga transmigrasi di beberapa pulau di Indonesia pernah dilakoninya.

Setelah itu berangsur-angsur surut, dan stagnan, dalam setahun selain reparasi dan pembuatan secara bijian saja pesanan gamelan komplit hanya sekitar 2-3 set saja. “Kadang-kadang hanya bijian saja, seperti bonang, saron, kethuk atau gong saja,” akunya.

Setelah menggeliatnya lagi berbagai kesenian seperti karawitan, jathilan dan reog yang secara otomatis membutuhkan alat musik gamelan, produksi usahanya kembali mengalami peningkatan.

“Untuk tampil maksimal tentu butuh alat yang baik pula, reparasi gamelan lumayan ramai, dan saya hitung-hitung ada sekitar 4-5 set saya buat tiap tahun dalam dua tahun terakhir,” katanya seraya bersyukur.

Harga yang dipatok untuk tiap set bervariasi, bahan jenis logam, ketebalan gamelan menjadi penentu tinggi rendahnya harga. Dia mencontohkan, misalnya tiap set gamelan jathil berkisar dari Rp 6 hingga Rp 13 juta, meski begitu kualitas suara yang dihasilkan dijamin sama bagusnya. (Kandar).

Komentar

Komentar