Pengakuan Eks Gafatar; “Kita di Sana Juga Berbaur dengan Warga”

oleh -
Rombongan eks Gafatar. KH/ Maria Dwianjani
iklan dispar
Rombongan eks Gafatar. KH/ Maria Dwianjani
Rombongan eks Gafatar. KH/ Maria Dwianjani

WONOSARI, (KH) — MR (42) nampak duduk dengan tenang usai mendengar pengarahan yang diberikan Plt Bupati Gunungkidul Budi Antono di salah satu ruang depan Balai Latihan Kerja (BLK) Gunungkidul, Selasa (02/02). Wanita berambut panjang tersebut menggunakan sebuah penutup hidung yang nampak sudah usang, sembari sesekali memberikan makanan kecil pada anaknya yang masih berusia 7 tahun. Saat itu ia baru saja sampai ke Gunungkidul usai dijemput dari penampungan sementara di Youth Centre Mlati Sleman.

Ketika disapa KH, ia mengaku sedikit tidak enak badan dan sangat lelah. Kepulangannya dari Kalimantan Barat dengan menggunakan kapal TNI usai kisruh massa membakar pemukiman milik Gafatar di Dusun Moton Asam Desa Antibar Kecamatan Mempawah Timur Kabupaten Mempawah Kalimantan Barat membuat ia dan keluarga bingung dengan kondisi yang dihadapinya.

MR meyakini tidak ada yang salah dengan keputusannya meninggalkan kampung halamannya di Gedangsari untuk bertani di Kalimantan Barat. MR mengaku tidak ada sedikit pun paksaan dari pihak mana pun dalam keputusan yang diambil keluarganya satu tahun lalu tersebut. Berbekal uang Rp 10 juta dari hasil penjualan tanah dan kendaraan roda dua milik suami, selanjutnya mereka bertolak ke Kalimantan. Ia mengaku, tujuannya saat itu adalah mengikuti Program Gapoktan yang ditawarkan oleh Gerakan Fajar Nusantara. Ketika ditanya apakah perekrutan tersebut termasuk dalam program eksodus yang ramai dibicarakan, ia mengaku tidak mengerti apa perbedaannya.

“Saya tidak tahu istilah tersebut Mbak. Yang jelas kita dijanjikan lahan ratusan hektar yang akan digarap bersama di sana,” ucapnya.

MR merasa sudah sangat betah tinggal di tanah Kalimantan. Ia menceritakan kegiatan mereka dan anggota permukiman Gafatar lainnya. “Kita hidup sangat sehat di sana. Tidak ada penyedap rasa waktu memasak. Tidak ada yang merokok juga. Saya di sana di bagian dapur dan ketika memasak, saya memasak untuk lebih dari 300 orang. Di sana kita makan bersama, ketika sudah ada yang memberikan tanda pluit,” ucapnya.

Ia menggambarkan, tanpa ada bantuan dari pemerintah, anggota lainnya yang memiliki kompetensi khusus di bidang khusus bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi di pemukiman tersebut.

“Misal kita membutuhkan aliran air atau ada yang sakit, ada orang di bidangnya bisa mengurus itu,” imbuhnya.

MR juga membantah bahwa kehidupan anggota Gafatar di sana bersifat ekslusif. Ia menjelaskan, bahwa kedatangan orang Jawa di tanah Kalimantan yang kebanyakan tidak mampu mengolah lahan membawa hawa segar bagi penduduk setempat.

“Kita juga berbaur dengan warga disana, bahkan mereka senang dengan adanya kita,” ucapnya.

Ia menyayangkan beberapa kabar buruk tentang aktivitas Gafatar yang membuat warga sekitar memilih menempuh jalan anarkis dengan membakar pemukiman mereka.

“Anggota Gafatar itu datang dengan keinginan sendiri. Masak ada isu diculik lah apa lah. Justru sebetulnya itu yang membuat warga di sana marah hingga membakar pemukiman kami,” imbuhnya.

Mr berharap, kedepannya pemerintah membantu mereka untuk mencari pekerjaan yang layak. “Kita ke sana dengan harta kita yang (sekarang) sudah dibakar. Kami berharap Pemkab bisa membantu kami,” pungkasnya. (Maria Dwianjani).

Komentar

Komentar