Pemkab Akui Belum Laksanakan Tugas Tanggulangi Bunuh Diri Dengan Baik

oleh -
Foto bersama usai diskusi yang digelar komunitas ICG. KH.

Skemanya, di salah satu kecamatan gencar dilakukan upaya atau tindakan promotif dan preventif merealisasikan modul penanggulangan bunuh diri yang telah disusun bersamaan dengan Perbup beberapa waktu sebelumnya.

Gambaran Kader Peduli Kesehatan Jiwa di Wilayah Lain

Salah satu relawan Yayasan Imaji, Ardi Primasari yang juga psikolog klinis di Puskesmas Gondomanan Yogkakarta, memaparkan pengalaman penanganan masalah kesehatan jiwa di wilayah kerjanya. Di wilayah kecamatan tempatnya bekerja disetiap RT sudah dibentuk kader yang peka dan mampu mendeteksi dini permasalahan psikologis yang dialami masyarakat.

“Misalnya mengalami perubahan perilaku akibat sakit menahun, mengalami kegagalan dan lain-lain. Kader memiliki kemampuan deteksi dini lantas melaporkan kepada petugas medis yang berkompeten,” papar Sari.

Dengan begitu, masyarakat berangsur memiliki kesadaran pentingnya mengakses layanan kesehatan untuk konsultasi ke psikolog. Terbukti, dalam setahun Sari tak kurang melayani hingga 500-an warga. Hal ini menjadi bukti bahwa masyarakat peduli dengan kondisi kesehatan psikisnya.

Sari mengungkap bahwa ketugasannya sangat terbantu oleh masyarakat, utamanya kader. Masyarakat lebih-lebih kader memiliki  radar kuat dan sigap untuk melaporkan jika ada warga yang mengalami gangguan atau menunjukkan perilaku berbeda dari biasanya.

Dana Desa Untuk Edukasi Kesehatan Jiwa

Tokoh pemuda, Endro Tri Guntoro, dalam diskusi mempertanyakan sejauhmana kebijakan pemerintah untuk serius menyentuh pada persoalan faktor bunuh diri, yakni kesehatan jiwa. Serta tentu saja faktor-faktor lain yang disebut juga menjadi latarbelakang atau stressor bunuh diri.

Jika kendalanya anggaram, Pemkab bisa menginstruksikan atau koordinasi dengan desa. Agar desa menggunakan dana desa melakukan kegiatan-kegiatan preventif melalui edukasi kesehatan dan penyuluhan terkait pengetahuan yang sesuai. Menurutnya dana desa dapat membiayai kegiatan edukasi tersebut melalui program pemberdayaan.

“Bangun gapura banyak saja bisa, apalagi ini hal penting yakni kaitannya pembangunan manusia,” tandas Endro.

Pada sesi lain, Sudodo sependapat dengan Endro mengenai alokasi dana desa guna kegiatan edukasi. Ia lantas meminta kepada siapapun yang memilki akses pada Musrenbangdes untuk mengusulkan program tersebut.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Imaji, Jaka Yanuwidiasta, mengungkapkan, data peristiwa bunuh diri di Gunungkidul sejak tahun 2015 hingga 2017 faktor risikonya karena depresi 43 %, sakit fisik menahun 26%, tidak ada keterangan 16%, gangguan jiwa 6%, ekonomi 5%, dan masalah keluarga 4%.

Awal tahun ini bahkan cukup mencengangkan, hingga menjelang akhir Maret ini setidaknya telah ada 14 kejadian. Lebih berbahaya lagi, ada kecenderungan kejadian bunuh diri terjadi pada usia produktif.

Dengan melihat statistik kejadian, bunuh diri meliputi sebaran kejadian, pola geografis, dan pola kejadian semestinya dapat menjadi pemahaman bahwa kejadian bunuh diri adalah permasalahan sosial. Peristiwa bunuh diri itu masalah kemanusaan bersama, bukan masalah pribadi, dan juga bukan masalah yang sengaja kadang dipandang sebagai hal misterius.

“Periksa hasil riset sosial, ekonomi, antropologi, psikologi, psikiatri, serta penelitian-penelitian WHO serta bagaimana rekomendasi-rekomendasinya. Sehingga semua sepakat bahwa bunuh diri bisa dicegah,” ungkap Jaka.

Dalam diskusi tersebut, Basuki Rahmanto, salah satu pengurus Yayasan Imaji juga berbagi pengalaman sederhana bagaimana membantu mencegah bunuh diri. Ketika sedang kerja di toko, Basuki ditelepon teman yang menjadi Bhabinkamtibmas di desa di Wonosari. Ia meminta tolong agar diminta cepat datang ke sebuah lokasi untuk membantu menangani seorang warga yang mencoba bunuh diri.

“Seketika itu, saya langsung pergi ke Puskesmas melaporkan kejadian percobaan bunuh diri. Setelah menerangkan sebentar ke kepala Puskemas, pihak Puskesmas segera menugaskan beberapa personil medis untuk persiapan dan langsung berangkat segera menangani ke lokasi kejadian. Warga yang kondisinya memerlukan pertolongan tersebut sempat mengamuk dan lari. Kami berusaha mengejar dan menenangkan. Pada akhirnya kondisi darurat kejiwaan tersebut dapat ditanggulangi,” ungkap Basuki.

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar