Peduli Estetika Lingkungan, Pengrajin Batik Ngawen Terapkan Teknologi IPAL

oleh -
Proses pewarnaan batik, pengrajin batik di Tancep, Ngawen. KH/ Kandar
kadhung tresno
Proses pewarnaan batik, pengrajin batik di Tancep, Ngawen. KH/ Kandar
Proses pewarnaan batik, pengrajin batik di Tancep, Ngawen. KH/ Kandar

NGAWEN, (KH)— Sejak batik diakui sebagai salah satu warisan budaya Indonesia oleh United Nations Education Scientific and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2009, batik semakin dikenal dan disukai oleh masyarakat Indonesia dan Mancanegara.

Hal tersebut mampu meningkatkan permintaan kain batik sehingga memberikan motivasi yang lebih kepada pengarjin batik untuk terus berkembang. Tingginya permintaan batik secara otomatis meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang terlibat dalam pembuatan batik.

Jenis batik yang berkembang di pasar cukup beragam dengan kualitas yang berbeda. Terdapat dua jenis batik, yakni dengan pewarna sintetik dan pewarna alam. Diketahui batik dengan pewarna sintetik memiliki warna yang lebih terang dibanding pewarna alam.

Namun pewarna sintetik dapat menghasilkan limbah yang lebih bersifat berbahaya bagi lingkungan karena sukar terdegradasi, terlebih apabila penanganan limbah cair tersebut kurang memadai. Aspek ramah lingkungan seperti ini menjadi perhatian bagi pengrajin batik, seperti yang dilakukan di Daru Batik Collectin, selain lebih banyak penggunaan pewarna alam, Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) yang berada di Desa Tancep, Kecamatan Ngawen ini telah menerapkan Instalasi Air Limbah (IPAL).

Disampaikan Widyaningrum selaku pemilik, UMKM ini dirintis bersama suaminya sekitar Tahun 2009. Sebenarnya awal usaha yang dirintis suaminya adalah konveksi, kemudian setelah menikah, selain melayani pembuatan aneka kebutuhan pakaian seragam, saat itu mulailah mencoba memproduksi batik.

“Saat ini area penjualan selain di lokal Gunungkidul, merambah wilayah Yogyakarta, Jakarta, serta ke luar Jawa, seperti Kalimantan, Bali dan Lombok. Dibedakan berdasar cara pembuatan, batik tulis lebih banyak laku ke luar daerah, sedangkan batik cap dominan menyuplai pasar lokal,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Proses produksi di UMKM ini awalnya masih menggunakan beberapa peralatan yang masih sederhana sehingga kualitas dan kuantitas kain batik yang dihasilkan belum optimal. Selain itu, dari segi pewarnaan secara umum masih mengandallkan pewarna sintetik.

Kemudian, lanjut Widyaningrum, UPT Balai Pengembangan Proses Dan Teknologi Kimia (BPPTK) LIPI memberikan pendampingan pada 2012 silam. Pendampingan yang diberikan dimulai dengan pengenalan penggunaan pewarna alam.

“Selain itu alih teknologi peralatan membatik seperti drum tembaga, peralatan batik cap, meja gambar, bak celup, dan pembuatan IPAL,” ujar Widyaningrum disela kesibukan menyelesaikan pesanan.

Pengenalan penggunaan pewarna alam dimulai dari pelatihan pembuatan pewarna dari bahan alam berdasar Standard Operating Prosedure (SOP) pembutan batik berpewarna alam. Kemudian pembuatan IPAL dibangun sebagai percontohan untuk UMKM disekitarnya.

Untuk mengolah air limbah pembuatan batik, demikian disampaikan Hernawan, M.Sc, peneliti bidang kimia LIPI Gading, sekaligus penanggungjawab kegiatan pendampingan batik di Tancep menguraikan, air limbah dialirkan menuju instalasi air limbah melalui inlet pit yang selanjutnya masuk ke bak pengendapan (sediment pond). Di dalam bak ini limbah akan mengalami koagulasi dan flokulasi.

Lanjut dia, proses tersebut dilakukan dengan penambahan bahan kimia koagulan dalam jumlah tertentu seperti tawas dan polyaluminium chloride (PAC) ke dalam limbahdisertai pengadukan sehingga akan menghasilkan flok-flok (padatan dengan ukuran besar) yang akan mengendap karena pengaruh gravitasi.

“Air selanjutnya dialirkan ke dalam bak filtras/ penyaringan yang terdiri tiga buah bak yang masing-masing berisi batu zeolit, ijuk, dan pasir halus,” jelas dia.

Setelah melalui tahap filtrasi, air dialirkan ke bak terakbir untuk dilakukan desinfeksi, untuk menghindarkan kontaminasi mikroorganisme dengan penambahan desinfektan seperti kaporit dan hipoklorit. Barulah setelah melewati semua tahapan itu air dialirkan ke lingkungan. Dengan dibangunnya IPAL ini, estetika lingkungan sekitar terjaga, aroma tidak sedap hilang.

Widyaningrum juga mengaku bahwa dengan adanya dampingan dari LIPI mampu meningkatkan kapasitas produksi, yang tadinya 200-300 potong perbulan, apabila ada pesanan berani melayani 1000 potong perbulan.

“Penambahan peralatan juga mendukung perbaikan proses produksi, sehingga diperoleh produk dengan kualitas yang lebih baik,” kata Widyaningrum lagi. (Kandar)

Komentar

Komentar