Pecinta Kuda Gunungkidul Rencana Gandeng Disbudpar

oleh -
iklan dispar

WONOSARI, kabarhandayani.– Sandi, seorang pecinta kuda dari Padukuhan Kuwon, Desa Ponjong, Kecamatan Ponjong berencana menggandeng Dinas Kebudayaan dan Kepariwisataan (Disbudpar) Gunungkidul untuk meningkatkan daya tarik wisatawan di Kabupaten Gunungkidul. Selain Disbudpar, ia juga berencana menggandeng Dinas Peternakan Gunungkidul guna mendapatkan suport dan fasilitas di bidang peternakan kuda.

Hal ini ia rencanakan karena jumlah kuda di Gunungkidul belum banyak, sehingga dengan usaha ini diharapkan bisa menambah populasi kuda serta nantinya bisa membantu mempromosikan wisata kuda kepada para wisatawan.

“Sekarang saya sudah merintis wisata kuda di Water Byur Ponjong sejak 2 tahun yang lalu. Kalau sedang ramai seperti hari Lebaran dan Tahun Baru ya hasilnya lumayan. Selain itu biasanya kuda saya juga disewa untuk kirab, bersih desa, dan hajatan pernikahan” jelas Sandi, Selasa (27/5/2014) di Lapangan Ksatriaan Jeruksari.

Sandi menambahkan ia pernah mengutarakan rencana ini pada salah satu pejabat Sekda Gunungkidul, namun hingga saat ini Sandi belum sempat untuk mengajukan proposal.

“Secara lisan saya pernah mengutarakan hal ini, bahkan sudah disuruh membuat proposal. Tapi hingga saat ini belum juga saya buat,” lanjutnya.

Selain itu ia menambahkan, para pecinta kuda di Gunungkidul selama ini telah menjalin kerja sama dan silahturahmi yang baik. Sehingga bila ada masalah tentang ternak kudanya, mereka bisa saling berdiskusi dan saling membantu.

“Ponjong itu ada 5 ekor kuda, sedangkan di Wonosari ada 6 ekor. Meski tidak terikat dalam komunitas resmi tapi kami selalu menjalin persaudaraan dan silahturahmi yang baik. Sehingga saya pernah berangan-angan nantinya bisa memdapatkan suport dari pemerintah agar mampu mengembangkan ternak kuda kami,” katanya.

Saat ini Sandi telah memiliki 3 ekor kuda, dua diantaranya betina dan jantan indukan sedangkan yang 1 ekor baru berumur 5 bulan. 

“Indukan jantan dan betina dulu saya dapat dari bantul dan jogja seharga Rp. 13,5 juta sekitar 3 tahun yang lalu. Sedangkan saat ini sudah beranak dengan jenis kelamin jantan,” pungkasnya.(Sumaryanto/Hfs)

Komentar

Komentar