Patung Sapi Baru, Warga Sumbermulyo Seolah Kehilangan Icon

oleh -
Patung sapi yang lama dan baru di Padukuhan Sumbermulyo, Desa Kepek, Kecamatan Wonosari. KH/ Kandar
iklan dispar
Patung sapi yang lama dan yang baru di Padukuhan Sumbermulyo, Desa Kepek, Kecamatan Wonosari. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Diganti dengan yang baru, Patung sapi lama di Padukuhan Sumbermulyo, Desa Kepek, Kecamatan Wonosari dibongkar lalu dipindah pada awal Desember tahun lalu. Penggantian patung sapi warna putih itu dirasa menghilangkan icon milik warga Sumbermulyo.

Dianggap bukan patung sembarangan, namun perjalanan waktu membuktikan keberadaan patung sapi seolah menjadi tonggak pertumbuhan ekonomi warga setempat. Tak hanya itu nama wilayah sekitar menjadi lebih terkenal dengan sebutan “patung sapi”.

Tokoh warga yang tidak lepas dengan awal mula pendirian patung sapi, Yono Pawiro (67) berkisah, pembangunan patung menggambarkan spirit warga atas usaha menekuni peternakan sapi. Selain itu juga sebagai penanda atas bukti keberhasilan yang diraih.

“Tahun 1985 kami menang juara 2 lomba tingkat nasional seputar pertenakan sapi, beberapa kategori meliputi induk unggulan, calon induk, maupun pejantan,” kenang Yono. Kenangan membanggakan masih jelas teringat, warga Sumbermulyo mendapat hadiah 12 lembar tikar, piring dan gelas masing-masing 10 dosin serta dana insentif sebesar Rp. 1,5 juta.

Bersama tokoh lain Yono sepakat dana insentif digunakan untuk pembangunan patung sapi. Uang Rp. 1,5 juta pada waktu itu bukanlah jumlah yang sedikit, apabila diumpamakan dengan saat ini senilai dengan Rp. 25 juta.

Singkatnya, patung sapi menghabiskan dana Rp. 2,7 juta, sehingga untuk menutup kekurangan, Yono terpaksa menjual seekor sapi miliknya. Semenjak prestasi kejuaraan nasional diraih dampak terhadap perkembangan peternakan sapi sangat pesat.

“Bayangkan, salah satu peternak sapi pada saat itu memelihara hingga 70 ekor sapi. Lain lagi dengan peternak lain, Karyadi, sebelumnya sama sekali tak punya sapi, tetapi setelah ikut serius beternak, jumlah sapi yang dimiliki hingga mencapai 35 ekor,” ucap Yono bangga.

Pada saat itu, ungkap Yono, hampir tidak ada warga Sumbermulyo yang tidak memiliki piaraan sapi. Keberhasilan peternakan di Sumbermulyo juga mampu lebih menghidupkan bidang usaha lain di wilayah ini. Limbah pabrik tahu, gembus menjadi lebih bermanfaat dan bernilai karena tersedot oleh warga yang memelihara sapi. Digunakan sebagai pakan penambah hijauan ternak.

Begitu besar perubahan perkonomian warga patung sapi. Seiring waktu berjalan integrasi bidang usaha dilakukan, meliputi ternak sapi, pabrik tahu dan pertanian. Ketiganya saling mendukung satu sama lain, pabrik tahu menghasilkan gembus sebagai pakan sapi, lantas kotoran ternak sapi menjadi pupuk kandang yang baik untuk pertanian.

Karena hal itulah, penggantian patung sapi oleh Kapedal dirasa membawa kekecewaan bagi Yono dan warga sekitar. Posisi patung ‘sapi ndekem’ atau meringkuk dapat diinterpretasikan beragam maksud. “Lha apa, malah terkesan sapi tidak gagah. Dilihat dari warna juga tidak jelas sapi jenis apa itu?,” tanya Yono.

Dirinya mengaku tidak pernah diajak berembug mengenai desain patung sapi yang konon berbahan tembaga itu. Meski lebih mahal dirasa tetap tidak bisa mengasosiasikan atau mewakili gambaran perjuangan masyarakat menekuni peternakan sapi.

“Sekedar harapan, mudah-mudahan diganti dengan patung sapi posisi berdiri,” harap Yono. Meski telah dicopot dari tempat semula, patung sapi putih masih akan dimanfaatkan. Patung sapi lama rencananya akan dipasang di komplek balai dusun. (Kandar)

Komentar

Komentar