Muncul Aksi Penolakan Pembangunan Tugu Tobong di Bundaran Siyono

oleh -
Tobong
Aksi penolakan pembangunan Tugu Tobong di Bundaran Siyono. (KH/ Kandar)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Penolakan dan kritik atas rencana Pemkab Gunungkidul mengganti patung Pengendang di Bundaran Siyono dengan Tugu Tobong Gamping tak hanya ramai di media sosial (medsos). Aksi penolakan pendirian Tugu Tobong Gamping juga digelar langsung di Bundaran Siyono, Playen, Gunungkidul, Senin, (18/4/2022).

Belasan masyarakat yang menggelar aksi terbagi menjadi dua sesi. Pertama, aksi dilakukan dengan orasi sembari membentangkan spanduk berisi tulisan penolakan.

“Tolak Pembangunan Tugu Tobong Gamping,” demikian bunyi tulisan pada spanduk yang dibentangkan peserta aksi.

Perwakilan aksi, Ervan Bambang Dermanto menyebut alasan penolakan icon Tugu Tobong Gamping. Alasan utamanya, Tobong Gamping merepresentasikan eksploitasi batuan karst. Maka pendirian tugunya dapat dimaknai sebagai simbol bentuk dukungan terhadap penambangan batuan kapur.

“Alasan yang lain, di Bundaran Siyono sudah ada Patung Pengendang. Patung tersebut merupakan simbol kebanggan sekaligus penghargaan terhadap seni Campursari yang lahir di Gunungkidul. Musik ini sudah mendapat pengakuan di level dunia,” tandas Ervan usai orasi.

Dia menilai keberadaan patung Pengendang sudah tepat. Sebab, maestro seni musik Campursari, Manthous sewaktu hidup berdomisili tidak jauh dari lokasi patung tersebut. Tepatnya di Kapanewon Playen.

“Patung Pengendang sudah tepat, historisnya jelas. Kalau Tobong ini belum jelas maksudnya,” imbuh dia.

Pada aksi sesi ke dua, sedikitnya ada 5 orang memakai baju hazmat membentuk formasi melingkar di titik Bundaran. Masing-masing memegang tuliasan dengan berbagai pesan. Antara lain: “Tolak Tobong mengganti Kendang.” “Tobong simbol eksploitasi karst.” “Tobong terawangan keblinger.” Serta “Ojo ngesuk-esuk, ojo mepet-mepet, Gunungkidul isih ombo.”

Koordinator aksi Stefanus Sujoko menambahkan, pemakaian hazmat dalam teatrikal aksi diam dan berputar sebanyak 5 kali mengandung maksud bahwa bundaran Siyono merupakan bertemunya 5 ruas jalur.

“Pemakaian hazmat kami simbolkan sebagai bentuk proteksi diri dari virus perusak seni budaya atau menghindari dampak buruk kebudayaan yang kontraproduktif atau menyimpang. Ini juga untuk mengingatkan pemangku kebijakan bahwa geger Covid-19 belum hilang dari ingatan. Keringat relawan masih basah, ekonomi yang terdampak juga belum pulih benar,” papar dia.

Makna diam, warga Siyono ini melanjutkan, banyak pihak dan tokoh sudah ikut bersuara dan menyampaikan pandangannya. Kemudian saatnya diam. Tinggal keputsan yang bijak ditunggu dari pemerintah daerah.

“Kami minta dikaji kembali pemilihan tempat pendirian Tugu Tobong. Tidak perlu menggeser patung Pengendang, masih banyak tempat lain,” tukasnya. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar