Melukis, Menyuarakan Harapan Patung Pengendang Dipertahankan

oleh -
Tobong gamping
Mbah Lanang sedang melukis Patung Pengendang. (KH)

GUNUNGKIDUL, (KH),– Selepas siang, Minggu, (24/4/2022) hujan dengan intensitas tak begitu deras mengguyur Gunungkidul. Tak berlangsung begitu lama. Sesekali reda lalu gerimis tipis.

Tak jauh dari ibu kota kabupaten, tepatnya di Bundaran Siyono, di Kapanewon Playen, ada sekelompok perupa sedang melukis. Sebagian besar mengitari Tugu Patung Pengendang. Ada pula yang mengambil posisi di trotoar.

KH menengok beberapa lukisan. 4 lukisan yang sedang dalam proses penyelesaian punya objek yang kurang lebih sama. Si bagz, Mbah Lanang, Mas Jons dan Walodeng, melukis pengendang, kendang saja serta yang nampak kentara berupa patung pengendang. Persis patung Pengendang yang ada di hadapan si pelukis.

“Ini menggambarkan perjuangan masyarakat. Mencoba melawan dan menahan ego penguasa,” kata Mbah Lanang, pelukis asal Playen saat ditanyai soal ‘pesan’ dari lukisan yang ia buat.

Lukisan lelaki bernama aseli Hasto ini berupa patung Pengendang. Persis seperti ikon di bundaran tempat mereka melukis. Bedanya tiang patung pengendang pada lukisan bentuknya melengkung. Penyebabnya ada sosok tangan yang mendorong dari salah satu sisi. Kulit tangan nampak seperti batu ditata. Dari sisi yang berlawanan ada sosok manusia mencoba menahan dorongan tangan yang berniat merobohkan patung.

“Memang ini gambaran nasib patung pengendang di sini. Didorong agar hilang, entah digeser atau dirobohkan. Yang mendorong ya penguasa. Yang saat ini menduduki tampuk pemerintahan. Keinginannya kuat sekali,” terang lelaki berkumis tebal ini melanjutkan penjelasan lukisannya.

Namun, lanjut dia, masyarakat masih punya niat mempertahankan. Mbah Lanang lantas menunjuk sosok manusia yang menahan tiang patung agar tidak roboh.

Mbah Lanang bilang,”sekuat tenaga masyarakat masih berkeinginan dan berharap agar Patung Pengendang tak diganti tugu Tobong Gamping.”

“Kulit tangan yang mendorong berupa batu ditata ini mewakili pemkasaan pembagunan icon Tobong. Dinding tobong seperti ini, kan,” ujar Bapak seorang musisi bernama Sirin Farid Stefy ini.

Sementara lukisan Jons berada pada kanvas yang berukuran lebih lebar. Besar pula lukisan orang yang memainkan kendang. Punya Walodeng lebih simbolik. Selain kendang ada lukisan mata meneteskan air mata.

Sementara punya Sibagz lebih seru. Gambar kendang ada 7 buah. Dengan enteng lelaki dengan dandanan punk ini berujar,” ini ada tujuh, kalau dirobohkan satu masih 6.” Begitu berujar senyumnya lantas tersungging.

Melukis bareng tersebut, sebagaimana disampaikan penanggungjawab, Stefanus Sujoko, menjadi bagian aksi damai berisi tuntutan dan harapan agar Patung Pengendang tak diganti Tugu Tobong Gamping.

Sebagaimana diketahui, Pemkab Gunungkidul dalam rangka melakukan tata kota berniat merubah tampilan kawasan Bundaran Siyono ke timur hingga Kranon, Kepek Wonosari. Masuk dalam program tata kota, muncul rencana penggantian patung Pengendang dengan icon Tugu Tobong Gamping. Niat pembuatan icon baru itu menuai pro dan kontra hingga saat ini. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar