Parkiran Gudang Garam Pasar Argosari Tinggal Kenangan

oleh -
Bekas Parkiran Gudang Garam, sebelah utara Pasar Argosari. KH/ Kandar
iklan dispar
Bekas Parkiran Gudang Garam, sebelah utara Pasar Argosari. KH/ Kandar
Bekas Parkiran Gudang Garam, sebelah utara Pasar Argosari. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Fasilitas publik tempo dulu yang cukup dikenal oleh para Pedagang Pasar Argosari Wonosari dan pengunjungnya kini sudah tidak ada lagi. Sebuah area di sebelah utara pasar sebagai tempat penitipan sepeda kini tinggal nama.

Perluasan bangunan salah satu lembaga keuangan membuat jasa layanan yang sebenarnya dianggap masih dibutuhkan itu sudah tidak beroperasi lagi karena lokasinya diambil alih untuk pembangunan gedung. Sebagaimana disebutkan Sujono, pemilik kios optik yang berada persis bersebelahan dengan jalan masuk eks tempat penitipan sepeda itu, bahwa semenjak akhir tahun 2015 lalu sudah tidak ada lagi aktivitas layanan penitipan.

Tempat yang populer disebut parkiran Gudang Garam itu secara fisik berubah total, tinggal tersisa sebuah jalan masuk memutus trotoar yang tidak begitu lebar lalu mentok dengan tembok bangunan baru.

Aktivitas yang masih nampak setiap hari tinggal beberapa tukang ojek yang melayani jasa antar para pengunjung pasar saja. Dalam ingatan Sujono, parkiran Gudang Garam mulai beroperasi awal tahun 1980-an. Jauh sebelumnya, antara tahun 1940-1950-an, atau lebih mudah disebut pada zaman Belanda tempat tersebut merupakan gudang penimbunan garam.

“Saya menyewa ruko sederhana di sini sejak 1979, gudang penimbunan garam sudah tidak ada, ceritanya dahulu itu milik pengepul garam berkapasitas besar,” kenang Sujono menyebut sebab asal usul penamaan parkiran itu, beberapa waktu lalu.

Waktu itu garam masih terbilang komoditas yang tidak mudah didapatkan seperti sekarang, selain garam pernah juga bahan sembako lain yang disimpan juga di gudang tersebut yaitu gula pasir. Dengan begitu mayarakat menyebutannya dengan sebutan gudang garam.

Banyak masyarakat berlalu lalang ditempat itu, menunggu atau sekedar duduk-duduk saja, rutinitas keluar masuk pedagang dan pengunjung pasar saat mengambil dan menitipkan sepeda terjadi setiap hari. Dalam memudahkan penyebutan tempat, secara spontan mereka lantas menyebut parkiran dekat gudang garam, lalu berangsur menjadi Parkiran Gudang Garam.

Selain sebagai penitipan sepeda, seiring waktu berjalan parkiran tersebut juga melayani parkir sepeda motor, hal tersebut karena kepemilikan sepeda motor oleh masyarakat semakin bertambah, bahkan juga menjadi tempat penitipan gerobak pedagang kaki lima yang berjualan di malam hari.

“Dahulu ada pohon beringin besar, sehingga bangunan parkir alakadarnya dengan atap tidak begitu lebar tetap teduh terbantu daun pohon yang rindang, sayang 2013 lalu roboh,” kata Sujono lagi.

Hal menarik yang ia ingat ialah mengenai keberadaan pohon beringin, dapat disebut orang yang berjasa besar terhadap pertumbuhan pohon tersebut ialah penjual es, setiap kali berhenti di tempat tersebut ia menyiram pohon beringin sewaktu masih kecil.

Sujono mengungkapkan, sewaktu alat trasnportasi sepeda masih dominan, dalam sekali tempo penitipan jumlah sepeda yang masuk mencapai 100-an. Sepengetahuan dia, memang parkiran Gudang Garam menjadi satu-satunya penitipan sepeda terbesar yang pernah ada.

Sistem parkiran yang terpusat demikian dikatakan, lebih rapi dari pada yang diterapkan seperti sekarang ini, ia menyebut terkesan semrawut. Ditempat itu pula dulu sempat menjadi Kantor perekonomian. Lantas karena pindah ke Yogyakarta kemudian dibangun Bank Pasar.

“Awal pengelolaan parkiran, tiap pedagang atau pengunjung yang menitipkan sepeda dikenakan biaya Rp. 50, kemudian untuk sepeda motor membayar Rp. 100, kemudian berangsur naik menjadi Rp. 200 dan seterusnya,” lanjut Sujono.

Ditambahkan Ismail, yag tak lain adalah anak Sujono, setiap kali pedagang menitipkan sepeda durasi waktunya cukup lama, yaitu dari pagi hingga sore hari. Karena merupakan penitipan, keamanan sepeda menjadi tanggungjawab penuh pengelola.

“Dahulu sepeda milik pengunjung ada yang hilang, mau tidak mau pengelola harus mengganti,” imbuh Ismail. Semenjak ditutup, pengelola parkir yang terakhir sudah berpindah, bekerja menjadi jaga malam di sebuah perkantoran. (Kandar)

Komentar

Komentar