Outing Class, Siswa SMAN 1 Tanjungsari Belajar Olerukultura di Greenhouse Ngawen

oleh -
Siswa SMAN 1 Tanjungsari sedang mengamati penanaman sayuran dengan sistem rumah kaca atau disebut green house. KH/ S. Yanto
iklan dispar
Siswa SMAN 1 Tanjungsari sedang mengamati penanaman sayuran dengan sistem rumah kaca atau disebut green house. KH/ S. Yanto

NGAWEN, (KH)— Kesadaran cara bercocok tanam yang baik berbagai komoditas holtikultur, khususnya olerukultura, mulai dikembangkan di Gunungkidul. Tak terkecuali di dunia pendidikan, banyak sekolah di Gunungkidul mulai memperkenalkan bidang ini pada siswanya sebagai bekal pengetahuan akan keuntungan finansial yang bisa didapatkan melalui pertanian.

Langsung dibawah bimbingan seorang profesor dari Korea Selatan, Kim Kimyung, Sabtu (15/4/2016) ratusan pelajar dari SMAN 1 Tanjungsari dengan semangat mengikuti pembelajaran teknik pengolahan lahan olerukulture sistem rumah kaca di lokasi perkebunanan greenhouse Desa Kampung, Ngawen. Dengan senang hati profesor dari Seoul itu menjelaskan cara bercocok tanam dan berbagai manfaat yang bisa dirasakan dari pertanian sistem rumah kaca.

Melalui seorang penterjemahnya, ia menyatakan bahwa telah saatnya sistem pertanian khususnya di Gunungkidul dirubah dengan cara dan sistem yang lebih menguntungkan. Khusus di Desa Kampung ini sengaja ia ciptakan sebagai tempat pembelajaran atau education center bagi masyarakat yang ingin belajar sistem pertanian modern.

“Awalnya memang sedikit lebih rumit dalam pengolahan dan pembuatan rumah kaca tapi hasilnya jauh lebih besar,” ungkapnya.

Di tempat ini telah ditanam berbagai jenis tanaman sayuran dan beberapa tanaman buah. Namun seperti yang diungkapkan Kades Kampung, Suparna, kebanyakan sayuran dan buah telah dipanen saat kunjungan siswa ini berlangsung. Tinggal kelompok tanaman cabai di ujung timur perkebunan yang daunya masih terlihat hijau dengan buahnya yang lebat.

“Baru sebulan yang lalu kita menjual hasil sayuran dan hasilnya bisa mencapai Rp 8,5 juta dari lahan yang tak seberapa luas itu,” ujar Suparna di lokasi perkebunan.

Beberapa jenis sayuran yang dibudidayakan ditempat ini meliputi cabai, tomat, terong, sawi, buah melon dan beberapa sayuran segar lainnya. Semua tanaman ini dikelola dengan baik di area lahan yang tertutup oleh hamparan plastik di atas tanaman hingga membentuk seperti ruangan rumah kaca.

Lastini, SPd, guru pembimbing dari SMAN 1 Tanjungsari mengungkapkan, bahwa ratusan siswa ini sengaja dibimbing guna mempelajari berbagai tanaman berserta manfaat ekonominya dalam mendukung pembelajaran PKWU (Prakarya dan Kewirausahaan). Lastini berharap agar anak-anak didiknya yang sebagian besar bertempat tinggal di daerah pertanian ini bisa mengaplikasikan di rumah masing-masing, bahkan bisa menjadi modal pengetahuan setelah kelak mereka dewasa.

“Setelah ini kami berminat untuk mengaplikasikan di lingkungan sekolah dulu agar menjadi bahan pembelajaran siswa. Kami memandang sistem perkebunan ini sangat bagus, baik dilihat dari segi ekonomi dan segi lingkungan karena sistem pertanian ini menggunakan bahan pengolahan yang serba organik,” tutur Lastini. (S. Yanto)

Komentar

Komentar