Nyeberang di Pantai Baron Bayar Dua Ribu

oleh -
iklan dispar

TANJUNGSARI, kabarhandayani.– Arus air sungai di Pantai Baron yang mengalir ke arah timur memotong pasir pantai ternyata membawa berkah tersendiri bagi orang-orang kreatif ini. Sejak Selasa (29/7/2014) mereka berinisiatif untuk membangun jembatan penyebrangan dengan tarif Rp 2.000,00.
Budi, pemilik 2 buah jembatan penyeberangan mengemukakan ide ini muncul saat melihat para pengunjung merasa kesulitan untuk melintasi genangan air sungai menuju ke bibir pantai pada Senin (28/7/2014). Berawal dari pencermatan cerdasnya, malam harinya ia membuat jembatan penyeberangan yang terbuat dari bambu.
Keesokan harinya, rakitan bambu-bambu itu telah terpasang dan hingga kini terus mendatangkan rupiah. “Hari Rabu kemarin 2 jembatan itu mengahasilkan Rp 6 juta, kalau Selasa kemarin sekitar Rp 4,5 juta,” ujar Budi, Kamis (31/7/2014).
Awalnya jembatan penyebrangan ini hanya 2 buah, namun sejak sehari kemarin sarana penyeberangan ini bertambah menjadi 5 buah. Melihat ide Budi yang sepertinya menghasilkan banyak uang akhirnya beberapa orang ikut mendirikan jembatan yang sejenis.
Salah satu orang yang juga mendirikan jembatan penyeberangan adalah Lugiran. Ia bersama 12 orang temannya mampu meraup Rp 1,3 juta pada Rabu (30/7/2014). Bermodalkan Rp 300 ribu untuk membeli bambu, hingga kini Lugiran masih tetap menunggu lembaran dua ribuan rupiah dari pengunjung.
“Jumlah pengunjung yang banyak kemungkinan hingga hari Minggu besok. Jembatan ini akan tetap kami tunggui selama pengunjung membutuhkan,” jelas Lugiran.
Lugiran yang setiap harinya bekerja sebagai nelayan akhirnya menempuh pekerjaan ini karena beberapa minggu terakhir cuaca tidak begitu bersahabat untuk melaut. Angin kencang tetap menjadi alasan tidak melaut karena dianggapnya membahayakan keselamatan.
“Tahun kemarin juga seperti ini, tapi dulu untuk menyeberang menggunakan perahu dengan tarif Rp 5.000,00 sekali angkut bisa membawa 10 orang. Tapi sekarang pakai jembatan saja karena lebih mudah dan menguntungkan,” pungkas Lugiran. (Maryanto/Hfs)

Komentar

Komentar