Nuraji Mengolah Rumput Laut Menjadi Banyak Produk, Pasar Semakin Meluas

oleh -
Proses Penjemuran Rumput Laut. KH/Kandar
kadhung tresno
Proses Penjemuran Rumput Laut. KH/Kandar
Proses Penjemuran Rumput Laut. KH/Kandar

WONOSARI, (KH)— Mampu melihat peluang dengan baik, Nuraji warga Padukuhan Dunggubah, Desa Karangrejek, Wonosari, ini merintis usaha bidang perdagangan dan pengolahan rumput laut sejak Tahun 1984. Nama UD. Rumput Laut Mandiri yang didirikannya merupakan UKM satu-satunya di Gunungkidul yang bergerak dalam bidang tersebut.

Berawal usaha perdagangan rumput laut bersih yang dicuci air tawar dari berbagai sentra/ pengepul rumput laut di Gunungkidul, Jawa Timur dan Jawa Barat, dirinya terus mengembangkan kemampuannya mengolah menjadi berbagai macam produk.

Keterbatasan pengetahuan, peralatan produksi, serta modal kerja tidak menjadi halangan Nuraji dan karyawannya untuk terus maju, berkat kegigihan dan semangat belajar kini dirinya berhasil mengolah rumput laut menjadi bermacam olahan diantaranya; Agar-agar kertas, jelly, dan tepung rumput laut.

UKM ini juga mengupayakan sertifikasi produk dan lisensi seperti izin produksi industri rumah tangga (P-IRT), izin gangguan (HO) dan lainnya.

Begitu menggembirakan, kerja kerasnya dirasa membuahkan hasil, permintaan pasar dan omset yang terus meningkat, serta jangkauan daerah pemasaran yang semakin luas hingga Jakarta, Lampung, Surabaya, dan Bogor menunjukkan bahwa produk yang dihasilkan UD. Rumput Laut Mandiri dapat diterima dengan baik di masyarakat dan pelaku usaha.

Beberapa perusahaan di DIY dan luar secara berkelanjutan telah menggunakan Agar-agar kertas dan tepung rumput laut sebagai salah satu bahan pendukung produk olahan mereka.

“Kini, dengan dukungan banyak pihak baik dari pemerintah melalui beberapa instansi terkait serta kerjasama dengan beberapa industri  kami juga membuat Teh rumput laut, pernah juga membuat obat herbal,” kata Nuraji ketika ditemui KH ditempat produksi, Jum’at (13/11/2015).

Salah satu dukungan, lanjut Dia, berasal dari UPT Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia (BPPTK) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Gunungkidul melalui program IPTEKDA XIII pada tahun 2010.

Beberapa bentuk dukungan yang diberikan diantaranya, introduksi peralatan untuk meningkatkan kapasitas produksi, perbaikan proses produksi meliputi tata letak peralatan produksi, pengenalan sanitasi dan hygiene pekerja serta pengenalan teknologi pengemasan.

“Kami juga dibantu dalam promosi, manajemen pembukuan dan akuntansi,” tambahnya. Dampak positif didapat, produk yang memenuhi baku mutu lebih beredar luas. Selain dalam bentuk berbagai produk, hingga saat ini pengiriman rumput laut dalam kondisi bersih dan kering masih dilakukan, jumlahnya mencapai 7 ton tiap bulan.

Dirinya mengaku, bahan baku dari Gunungkidul tidak mencukupi, bahkan separuhnya dari jumlah kebutuhan produksinya saja tidak sampai. “Memasok bahan baku industri di Surabaya cukup banyak, dari sana sebagian juga di ekspor ke Hongkong,” sambungnya.

Beberapa produk jadi, merupakan bentuk kerjasama dengan perusahaan pembuat dan pemasar produk terkait (teh dan obat herbal). Dirinya memiliki keinginan suatu saat bisa mendapat sertifikasi dari Badan POM, dan yang lain sehingga bisa memproduksi menjadi merek sendiri dan mendapat keuntungan yang lebih.

“Dalam dunia usaha dan bisnis terkadang kita temukan hal-hal yang kurang menguntungkan, seperti salah satu produk rumput laut, mereka bisa jual tinggi, tidak sebanding dengan pendapatan kita sebagai pembuat,” ungkapnya.

Rumput laut merupakan salah satu komoditi sumber daya laut andalan Indonesia, yang bernilai ekonomis dan potensial sehingga Nuraji tidak berhenti berinovasi, bakso rumput laut dan pupuk organik dari sisa produksi juga dibuatnya.

“Pupuk limbah ini sangat bagus, perkebunan buah klaten yang beli dengan harga Rp 5 ribu per Kg, masih ada beberapa olahan makanan yang akan kita buat lagi,” Pungkas Nuraji. (Kandar)

Komentar

Komentar