Nama 7 Anak Keluarga Sakinah Ini Diawali Urut Abjad A – G

oleh -
H Haboedin dan Hj Siti . KH/Sarwo.
iklan dispar
H Haboedin dan Hj Siti . KH/Sarwo.
H Haboedin dan Hj Siti Siti Pujimah dari Desa Karangrejek Wonosari. KH/Sarwo.

WONOSARI, (KH) — Pasangan suami-istri H Haboedin (82) dan Hj Siti Pujimah (74), arga Karangrejek RT 07 RW 03 Kecamatan Wonosari ditunjuk oleh Kantor Kemenag Kabupaten Gunungkidul sebagai Keluarga Sakinah Teladan wakil dari Gunungkidul. Pada pertengahan bulan Mei lalu telah dinilai oleh Tim Lomba Keluarga Asdukia Sakinah Teladan Propinsi DIY. Ditemui KH Sabtu (13/06) di rumahnya, H Haboedin sedang santai duduk  di teras rumahnya.

Ada yang menarik dari pasutri H Haboedin dan Hj Siti Pujimah ini. Mereka dikaruniai 7 anak yang namanya diawali dengan huruf A- G. Nama anak-anak mereka adalah: Asduki, Basroni, Choiruddin, Djarti Yuliana, Ery Janarto, Fuad Nurhadi, dan Gita Nurlaila. Ketujuh anak mereka semua berhasil menamatkan pendidikan jenjang sarjana. Drs H Asduki MM (PNS), Drs H Basroni MA (PNS), Choruddin S.Ag (PNS), Djarti Yuliana SPd (PNS), Ery Janarto S.Ag (wiraswasta), Fuad Nurhadi SNN (Wiraswasta), dan Gita Nurlaila SPd (Guru SMK Muh Wonosari.).

Menariknya lag,i putra-putri H Haboedin, menikah juga secara berurutan dari yang yang tertua sampai yang termuda. Istri dan suami putra-putri H Haboedin juga menyandang sarjana semua. Sampai sekarang H Haboedin mempunyai 15 cucu. Dari anak pertama 4 cucu, anak kedua 3 cucu, anak ketiga 1 cucu laki-laki, menolong ibu yang melahirkan di sawah, setelah sampai di rumah bidan, ibunya melarikan diri. Anak keempat 1 cucu putri, menolong ibu hamil yang tidak diakui ayahnya, suami Djarti (Suwarsa) sanggup anak setelah lahir. Anak kelima 3 cucu, anak keenam 2 cucu,anak ketujuh 1 cucu. Semuanya hidup rukun dan sejahtera.

Riwayat hidup H Haboedin, dilahirkan 12 Agustus 1933 di Tepus, ia adalah anak pertama dari keluarga Muksin, yang kebetulan juga punya anak 7 orang (4 putra 3 putri). Seperti kehidupan anak-anak di desa, Haboedin sekolah SR (SD), SMP lancar, dan memasuki SMA sekolah di sekolah swasta di Yogyakarta, tetapi bernasib sial, tidak lulus ujian, mau pulang ke Tepus takut dimarahi ayahnya,

Haboedin sadar ketidaklulusannya karena sering lupa menunaikan ibadah. Sejak itu Haboedin rajin shalat, tahajut, melakukan puasa Senin-Kemis. Akhirnya mendapat petunjuk dari Allah, ketika jalan-jalan membaca pengumuman di UIN Sunan Kalijaga, menerima mahasiswa baru dari SMA swasta yang  tidak lulus lewat test. Alhamdullilah dalam test dinyatakan lulus, pada hal ada satu mata pelajaran Bahasa Jerman, yang merasa tidak bisa mengerjakan.

Kuliah baru berjalan beberapa bulan Haboedin dipanggil pulang ke Tepus, untuk mengajar di MMI (Madrasah Menengah Islam), sambil mengajar Haboedin melamar menjadi karyawan Depag, dan mendapat SK bertugas di KUA Turi Sleman, 3 bulan kemudian bisa pindah ke Gunungkidul, menjadi pegawai KUA Tepus, tetapi masih mengajar di MMI yang kemudian menjadi PGA (Pendidikan Guru Agama).

Prestasi Haboedin terus menanjak, ketika Kepala KUA Tepus (Muh Ardani) meninggal, satu-satunya pegawai yang dapat menggantikan Haboedin. Tetapi ada kendala, seorang Kepala KUA harus sudah punya istri. Sebelum menduduki jabatan KUA, Haboedin mendapatkan anugerah, dijodohkan dengan Siti Pujimah, anak almarhum Muh Ardani. Perkawinan itu terjadi 57 tahun yang lalu.

Haboedin menjabat sebagai Kepala KUA (Kantor Urusan Agama) dari 1968-1972. Tahun 1972 ditarik ke Depag Gunungkidul menjabat Kasubsie Kepenguluan dari 1972- 1089. H Haboedin pindah dari Tepus ke Karangrejek Wonosari tahun 1975 sampai sekarang.

Kegiatan di Desa Karangrejek,menjabat seksi Agama dalam kepengurusan LKMD (Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa). Kemudian LKMD diganti menjadi LPMD (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa) dari tahun 1988-2008. Kemudian menjabat Ketua LKD (Lembaga Kredit Desa) 2006-2011. Tahun 2010- 2017 sebagai Badan Pengawas Badan Usaha Milik Desa (BUMD) Karangrejek Kecamatan Wonosari.

Sementara Hj Siti Pujimah yang mendampingi H Haboedin selama 57 tahun, dan dikaruniai 7 anak, merasa bahagia dan tenteram hidup bersama. Diakui Siti Pujimah, suami sejak 1955 rajin puasa Senin-Kamis sampai sekarang. Kendati sudah usia 82 tahun masih sehat momong cucu. Bahkan H Haboedin masih dapat membaca tanpa kacamata. Diceritakan ada keanehan, ketika berusia 40 tahun sudah memakai kacamata minus sampai tahun 1956, anehnya sejak 1956 merasa pedih kalau pakai kaca mata, maka kacamatanya dilepas, dan ada mukjijat dapat membaca tanpa kacamata sampai sekarang.

Sarapan pagi membaca koran, diakui menjadi kebiasaan Haboedin sejak sekolah di Yogyakarta. Ia rajin membaca koran daerah terbitan Yogyakarta.

Sampai sekarang belum ada  pengumuman hasil penilaian keluarga Sakinah se-DIY tersebut. Haboedin dan Siti Pujimah tidak begitu menghiraukan apakah menjadi Keluarga Sakinah Teladan tingkat Propinsi atau tidak.

”Saya sudah tua dan orang desa, kalau terpilih yang matur nuwun.”pungkas H Haboedin. (Sarwo)

Komentar

Komentar