Musim Kemarau Berpengaruh Terhadap Ketersediaan Pasir

oleh -
iklan dispar

WONOSARI,(KH)— Musim kemarau ini, penambangan pasir di sungai-sungai lereng Gunung Merapi cukup langka. Imbasnya, penambang cukup kesulitan mendapat pasir, sehingga membuat sopir truk pengangkut pasir harus mengantri. 

Kesulitan mendapatkan pasir diantaranya dialami oleh Sarwo seorang sopir truk pengangkut pasir warga Desa Giring Paliyan. Tidak adanya hujan membuat pasokan air di sungai-sungai menipis di musim kemarau. Dampaknya stok pasir yang sering diambil semakin habis, paling banter dirinya hanya bisa sekali mengangkut dalam waktu sehari. 

“Tidak seperti biasanya pada musim kemarau kali ini, sebagian pengangkut pasir dibuat bingung karena susah untuk mendapatkan pasir terutama di Merapi,” katanya Minggu (2/11/2014). 

Kepada KH, Ia menambahkan tanpa adanya hujan yang menyebabkan banjir lahar dingin, tumpukan material pasir di atas atau di bagian hulu tidak bisa turun ke bawah. Terkait ini para sopir pengangkut pasir berharap musim kemarau tahun ini tidak sampai berlangsung lama. 

Sarwo sendiri sempat libur beberapa hari karena antrian yang panjang ketika sampai di lokasi pertambangan. “Wah, kalau di hitung-hitung rugi seharian ngantri, waktu akan terbuang juga rugi solar jika hanya satu kali narik,” ujarnya. 

Sulitnya mendapatkan pasir disinyalir akan memberikan kenaikan pada harga pasir. Pasalnya harga di lokasi pertambangan sudah naik beberapa bulan yang lalu. “Saat ini kenaikan bervariasi antara Rp 5000 sampai Rp 15000 per kubiknya,” imbuhnya.

Kenaikan ini lanjut dia, sudah terjadi sejak sebelum puasa kemarin saat pasir mulai langka. Dirinya mengaku tidak bisa memastikan harga akan turun kapan. “Justru harga pasir akan semakin mahal manakala semakin sulit dicari karena langka,” pungkasnya.(Atmaja/Bara)

Komentar

Komentar