Muncul Antraks, Pedagang Sapi Stop Belanja, Penyedia Kuliner Lebih Waspada

oleh -
Antraks
Pedagang sapi asal Karangasem, Paliyan, Gunungkidul, Eko Purwono. (Istimewa)
iklan golkar idup fitri

GUNUNGKIDUL, (KH),– Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates Yogyakarta telah memastikan bahwa sejumlah ternak di Gunungkidul terkonfirmasi terinfeksi Antraks.

Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis itu telah menyebabkan belasan sapi mati di Kapanewon Ponjong dan Gedangsari.

Antraks merupakan penyakit zoonotik yang dapat menular ke manusia. Untuk itu, sejauh ini sejumlah langkah telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul untuk menekan penyebaran bakterinya.

Pemkab melakukan langkah antisipasi melalui dinas terkait diantaranya melakukan pengobatan dan vaksinasi terhadap ternak. Pun demikian dengan pedangan ternak, langkah antisipasi juga diambil agar jangan sampai kegaiatan jual beli yang dilakukan turut menyebarkan penyakit.

“Tentu ikut antisipasi agar tidak rugi juga. Kami mulai besok stop belanja sapi. Sementara waktu melihat perkembangan,” kata pedagang sapi asal Karangasem, Paliyan, Gunungkidul, Eko Purwono, saat dihubungi, Senin (31/1/2022) malam.

Dia berharap penanganan terhadap temuan Antraks dari pihak berwenang cepat dilakukan, sehingga tidak menyebar ke wilayah kapanewon lain.

Dengan begitu, dampak Antraks terhadap usaha jual beli ternaknya, baik sapi dan kambing tidak terpuruk seperti beberapa tahun 2020 lalu.

Tak hanya pedagang ternak, antisipasi juga dilakukan pedagang kuliner sate kambing. Anindita Wahyu Pratama penjual sate di Wonosari ini lebih hati-hati memilih kambing yang hendak disembelih.

“Ada atau tidak ada Antraks, saya memilih kambing yang benar-benar sehat. Bisa dilihat dari mata kambing, mengeluarkan air atau ada kotorannya tidak. Apalagi kondisi kambing yang sudah sakit bahkan mati jelas pantangan,” tegasnya.

Dengan kemunculan antraks dia akan lebih jeli lagi dalam membeli kambing. Termasuk mempertimbangkan asal-usul kambing. (Kandar)

Berbagi artikel melalui:

Komentar

Komentar