Meski Musim Panas, Dompet Suwandi Tidak Mengalami Kekeringan

oleh

WONOSARI,(KH).– Cuaca panas yang dikeluhkan oleh sebagian masyarakat Gunungkidul akhir-akhir ini ternyata justru menjadi berkah para pengrajin batako. Sebagian besar pengrajin batako mengaku mendapat kenuntungan tersendiri dari cuaca panas yang terjadi pada musim kemarau ini. Pasalnya, cuaca panas tersebut justru mempermudah produksi batako yang sedang naik ordernya.

Seperti Suwandi (46), warga Singkar Wareng yang sudah memproduksi batako sejak 2,5 tahun silam. Menurutnya, faktor cuaca sangat mempengaruhi dalam melakukan bisnis batako. “Disamping cepat kering, faktor bertambahnya konsumen yang sedang memperbaiki rumah mereka saat musim kemarau,” katanya saat di temui di tempat usaha cetak batako miliknya.

Suwandi yang memulai berbisnis batako press 2,5 tahun silam tersebut menuturkan telah merintis usahanya dengan beragam pengalaman. Ia tak khawatir akan sepinya konsumen saat musim hujan. “Allhamdulilah perjuangan saya saat dari awal memberikan hasil saat ini,” ujarnya.

Kepada KH, pemilik usaha cetak batako Sumber Makmur tersebut menjelaskan, ia memilih usaha batako karena jenis usaha tersebut resikonya ringan. “Kalau berbisnis hewan resikonya kematian, makanan resikonya harus sekali habis, tetapi batako dapat ditampung hingga beberapa bulan,” jelasnya.

Suwandi mengirimkan batako hingga ke daerah Serpeng Semanu dan daerah sekitar Kecamatan Paliyan. Untuk satu batako, Suwandi mematok harga 2000 rupiah/batako sampai di tempat. Kesulitan yang dihadapi Suwandi saat ini adalah dalam hal tenaga kerja. Banyaknya pesanan membuat ia sampai harus ikut turun tangan mengirimkan batako tersebut. Bahkan tak jarang Suwandi ikut menurunkan batako dari atas mobil.

“Walaupun melelahkan, saya bersyukur karena saya bisa merasakan tuaian yang saya tanam saat ini,” imbuhnya.

Saat ditanya penghasilan, Suwandi mengaku dalam seminggu penghasilan bersih mencapai Rp 1,7 juta. Saat ini Suwandi yang dibantu tiga tenaga kerjanya mampu memproduksi 1.300 – 1.400 batako dalam waktu sehari.

Martono (56), warga Pampang Paliyan mengungkapkan, kualitas batako milik Suwandi memang bagus karena campuran semennya sangat terasa. “Batako yang bagus tidak mudah patah ketika dibawa ataupun ditumpuk, dan juga keras,” katanya saat sedang memesan batako bikinan Suwandi.

Martono mengaku tak rugi memakai produk batako Suwandi, meskipun harganya dipatok Rp 2000 per biji. “Ada istilah “rego nggawa rupa”, itulah yang saya lihat dari batako disini karena memang kualitas menentukan harga,” tandasnya. (Atmaja/Bara).

Komentar

Komentar