Menengok Program Latih Diri Di Vihara Siraman Dan Nilai Ajaran Buddha

oleh -
iklan dispar
buddha
Aktivitas siswa latih diri di Vihara Siraman (Vihara Jhina Dharma Sradha). KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Umat Buddha di Gunungkidul merupakan bagian dari keberagaman kelompok keyakinan atau beragama. Salah satu tempat ibadahnya (puja bhakti) dan pembinaan umat oleh Bhikku Sangha dalam bidang rohani dan Agama berada di Padukuhan Siraman 3, Desa Siraman Kecamatan Wonosari. Dapat dikatakan tempat ini menjadi Vihara induk di Gunungkidul.

Salah satu kegiatan yang dilaksanakan di Vihara Jhina Dharma Sradha ini ialah program latih diri sebagai seorang Pabbajita, beberapa waktu lalu KH berkesempatan untuk lebih tahu apa program tersebut dan beberapa pengetahuan lain mengenai peribadatan umat Buddhis.

“Merupakan praktik kehidupan yang didefinisikan melaksanakan atau menjalani cara hidup meninggalkan keduniawian sebagai seorang bhikkhu atau petapa,”  kata Ketua Muda Mudi Buddhis Gunungkidul, Sugeng Riyanto S Ag beberapa waktu lalu.

Pesertanya, tak hanya dari Samanera atau lulusan setingkat SMA/SMK di pulau Jawa saja, tetapi juga berasal dari luar Jawa. Sepertihalnya Yana Sugata ini, ia berasal dari SMA Negeri 2 Gerung, Lombok Barat. Berbaur bersama teman yang lain ia menjalani layaknya pesantren dalam istilah Islam selama kurang lebih 3 bulan.

Selain memperdalam agama, Samanera untuk sebutan siswa putra dan Samaneri untuk sebutan putri, mereka juga berlatih mengendalikan diri menjadi lebih baik. Yana Sugata yang memiliki nama lain Samanera Badhra Sugato ini sedikit bercerita mengenai upaya mengendalikan diri menjadi lebih baik dengan menjalankan ajaran Buddha. Beberapa hal yang disampaikan juga mengenai pemaknaan berbagai lambang atau nilai peribadatan dalam Agama Buddha.

Ia menuturkan, ada sedikit kemiripan dengan Agama Hindu, dalam Buddha juga mengenal dan erat dengan berbagai benda perlambang yang menyertai dalam beribadah. Kemungkinan kemiripan ini ada kaitannya dengan Negara asal kedua agama tersebut, yakni dari India.

“Ada air, lilin, dupa, buah, dan bunga, kesemuanya itu merupakan seperangkat kebutuhan dalam upacara, misalnya saja Waisak,” Kata Yana Sugata. Semuanya, lanjut dia, sebagai bentuk interpretasi dalam menjalani kehidupan ini.

Setiap benda dan bahan upacara atau ritual itu memiliki makna sendiri-sendiri, dia memaparkan, air berarti kejernihan atau melambangkan kesucian, sedangkan lilin mewakili ungkapan penerangan, lalu buah bermakna karma atau hasil, apa yang ditanam pasti akan memetiknya.

Adanya dupa, sambung remaja yang sulit berbahasa jawa ini, artinya keharuman atau kebajikan. “Lantas bunga itu mengandung maksud ketidakkekalan, ketidakabadian sebagaimana semua yang ada di bumi ini, layaknya bunga mudah layu dan lapuk,” jelas dia.

Begitu juga dengan wujud ritual yang lainnya, ada yang menganggap bahwa Budhha menyembah arca, sebenarnya, tambah Sugeng, makna melakukan sembahyang atau menyembah lebih ke rasa terimakasih kepada Buddha Gautama yang telah menemukan ajaran kebenaran.

“Menyembah di depan rupang Buddha, pada prakteknya untuk merenungkan serta mengingat jasa-jasa yang telah mengajarkan Dharma,” ulasnya.

Pokok ajaran dasar Buddha ada empat kebenaran mulia, papar Sugeng didampingi Yana Sugato, keduannya menyebutkan yaitu berupa Dukkha, Sebab Dukkha, lenyapnya Dukkha, dan jalan menuju lenyapnya Dukkha. Dukkha berarti penderitaan, pendritaan di sini lebih kepada perubahan, bagaimana kita bahagia satu menit kemudian mendadak sedih, serta perubahan besar dalam kehidupan, seperti kelahiran, umur tua, sakit dan lainnya.

Sebab Dukkha maksudnya kotoran batin dan kebodohan ini bukan mengenai intelektual, tetapi tidak bisa membedakan baik dan buruk, sedangkan lenyapnya Dukkha, sudah tidak terpengaruh lagi dengan kematian, lalu jalan menuju lenyapnya Dukkha berupa jalan mulia berunsur depalan.

“Diantaranya pengertian (pandangan) benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian (penghidupan) benar, daya upaya benar, perhatian benar, dan konsentrasi benar,” papar Sugeng. (Kandar)

Komentar

Komentar