Level PPKM Turun, Industri Batik Kulonprogo Mulai Menggeliat

oleh -
batik
Pembatik si Sembung Batik Kulonprogo. (dok. Pingky Octavian)

KULONPROGO, (KH),– Hari Batik Nasional jatuh pada hari Jumat 2 Oktober 2021. Penetapan hari tersebut dilakukan oleh UNESCO sejak 2 Oktober 2009 karena batik sebagai warisan kemanusiaan  untuk budaya lisan dan nonbendawi.

Kini ekonomi industri perajin batik tradisional tepatnya di Dusun Sembungan, Kapanewon Lendah, Kabupaten Kulonprogo, Yogyakarta mulai menggeliat di tengah pandemi COVID-19. Mereka mulai merasakannya sejak level PPKM turun di beberapa wilayah.

Bayu Permadi, selaku pemilik Sembung Batik mengatakan, pada Februari hingga awal Maret lalu perajin masih mendapatkan beberapa pesanan untuk dikerjakan. Namun setelah itu, sepinya pesanan mulai dirasakan olehnya.

Bahkan sejak diterapkannya PPKM penjualan batik sempat menurun drastis. Hal ini mengakibatkan 50 karyawannnya harus dirumahkan selama 2 minggu karena sepinya pesanan. Kini tersisa 30 karyawan saja karena 20 diantaranya beralih profesi.

30 karyawan tersebut bertugas di masing-masing proses pembuatan batik diataranya pada bagian pengecapan batik 4 orang, pewarnaan kain 7 orang, pemotongan kain 3 orang, 2 orang admin, 2 orang menuggu Gallery dan sisanya membatik.

Sembung Batik awalnya menggunakan metode pemasaran offline dari mulut ke mulut. Namun, di era digital terlebih dengan adanya pademi ini manajemen memaksimalkan metode pemasarannnya menjadi online dengan memanfaatkan berbagai media sosial dan market place untuk menyelematkan Sembung Batik.

“Sekarang kami mengangkat dua karyawan yang khusus menangani pemasaran melalui online,” ungkap Bayu.

Bayu berharap pandemi COVID-19 segera berakhir. Dengan demikian, geliat industri batik di Kulonprogo dapat kembali pulih seperti sedia kala.

Penulis : Pingky Octavian (Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa)

Berbagi artikel melalui:
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Komentar

Komentar