Legenda Pasar Kawak, Siraman, Cikal Bakal Pasar Argosari

oleh -
Lokasi yang dikenal dengan sebutan Pasar Kawak, Seneng, Siraman, Wonosari. KH/ Kandar
iklan dispar

WONOSARI, (KH)— Tersebutlah nama Demang Seneng, ia dikenal sebagai pendiri pasar, awal ceritanya, ia ditinggal mati oleh istrinya,kemudian ia hanya ingin menikah lagi ketika menemukan pengganti yang hampir sama dengan istrinya terdahulu. Njajah deso milang kori/ berkelana ia lakukan. Sampailah ia di Desa Ireng-ireng, Bantul, sampai akhirnya bertemu Putri Raden Ayu Roro Ireng-ireng, Ia adalah anak Ki Saudagar Ireng-ireng.

Agar dapat mengenal lebih dekat, maka Demang Seneng meminta menjadi pekerja di kediaman Ki Ireng-ireng. Sebelumnya identitas Ki Demang Seneng memang disembunyikan, setahu keluarga KI Ireng-ireng ia hanya masyarakat biasa. Lalu, kemudian setelah cukup mengenal pribadi Roro Ireng-ireng, ia berniat melamar RA Roro Ireng-ireng.

Atas bantuan Ki Bayan, perihal niat Demang Seneng tersebut (melamar) disampaikan ke Ki Ireng-ireng, dalam istilah jawa hal semacam ini dinamakan Takon Padang peteng. “Ya sudah, silahkan ditanyakan langsung ke anak saja Bayan,” tutur Darso Rejo menggambarkan jawaban Ki Ireng-ireng. Darso Rejo adalah warga Padukuhan Seneng yang dikenal tahu mengenai cerita legenda Pasar Kawak tersebut. Ia tinggal di sebelah barat tidak jauh dari bekas Pasar Kawak, Seneng, Siraman.

Cerita berlanjut, Lantas dipanggillah Roro Ireng-ireng, setelah ditanya, tidak ada jawaban sedikitpun yang muncul dari mulutnya, ia hanya diam saja, setelah diperhatikan seksama oleh ayahnya, pertanda jawaban muncul, jempol kiri Roro Ireng-ireng bergerak-gerak. Lalu Ki Ireng-ireng menyimpulkan bahwa anaknya bersedia dan berjodoh dengan pekerja/buruh yang tak lain ialah Demang Seneng.

Sebagai orang yang berstatus bekerja, melamar majikan adalah sebuah keberanian, maka Demang Seneng ditantang oleh Ki Ireng-ireng atas niatnya tersebut, layaknya pernikahan pada umumnya, pihak mempelai pria memberikan mahar kepada mempelai wanita. Lantas Ki Ireng-ireng pun memiliki permintaan. Disampaikan kepada Demang Seneng, ia diminta menyediakan mahar/ Pitukon, yakni berupa rujak uni.

Rujak uni ialah segala jenis hewan piaraan, seperti kerbau, sapi, kuda, kambing, ayam, bebek, hingga burung, dan lainnya. Demang Seneng lantas menyanggupi apa yang diminta oleh calon mertuanya tersebut. Bahkan jika tidak dapat menepati maka nyawalah sebagai penebusnya.

“Setelah lamaran diterima Demang Seneng berpamitan kembali ke Gunungkidul, guna menyiapkan segala sesuatunya” Lanjut Darso.

Tidak sampai lima hari, Demang Seneng dari Gunungkidul mengirim surat kepada Ki Saudagar Ireng-ireng utuk menyediakan tempat yang luas, sebagai tempat berlangsungnya acara pernikahan sekaligus penyambutan tamu dan menaruh rujak uni yang diminta.

Ki Ireng-ireng sadar, ternyata niat Demang Seneng bukan main-main, maka dibuatlah Gestalan atau alun-alun yang luas. Sampai pada saatnya, Demang Seneng meminta dukungan dari seluruh Kademangan Gunungkidul yang ada, dari berbagai kademangan tersebut ada yang memberikan kerbau, sapi, kambing, kuda bebek, ayam, burung, dan semua jenis hewan piaraan seakan-akan ada disediakan.

Begitu banyaknya, hingga menyebabkan Gestalan yang disediakan serasa penuh dengan hewan piaran yang dibawa. Kemudian, setelah resmi menjadi suami istri kemudian Roro Ireng-ireng diboyong tinggal di Gunungkidul, tinggal di Desa Seneng. Desa yang sebelumnya adalah hutan belantara.

Atas dua orang, sebut saja pengembara, pada suatu waktu mereka melintas dan beristirahat di wilayah ini, di kala sore hari, mereka merasakan suasana lain dari biasanya, begitu senang hatinya, tentram dan damai fikirannya. Lantas keduanya sepakat, pada saatnya nanti jika dihuni oleh manusia maka desa tersebut akan dinamakan Desa Seneng.

Kembali ke cerita Pasar Kawak, Demang Seneng dan Roro Ireng-ireng menjalani bahtera rumah tangga, hari, bulan, dan tahun berjalan. Demang Seneng yang termasuk orang berkecukupan ini, bersama istrinya tinggal di sekitar bekas Pasar Kawak tersebut.

Pada suatu waktu, hari-hari Roro Ireng-ireng mukanya sering bersedih bahkan hingga menangis. Demang Seneng sedikit heran kenapa istrinya bersedih, padahal semua kebutuhan hidup pada masa itu telah tercukupi.

“Mau memasak daging ayam tinggal menyembelih, memasak nasi, beras sudah ada, kamu kepingin apa?,” ucap Darso menunjukkan keheranan Demang Seneng. Ternyata, setelah Roro Ireng-ireng memberikan jawaban, penyebab kesedihan bukan seperti apa yang dimaksud Demang Seneng.

Ternyata, Roro Ireng-ireng sedih lantaran di sekitar tempat tinggalnya terasa sepi, berbeda dengan ketika tinggal di Desa Ireng-ireng, ada keramaian berupa pasar. Mendengar jawaban istrinya, Demang Seneng tidak bingung, bahkan untuk mewujudkannya ia menganggap merupakan hal yang mudah.

Kemudian, pada suatu pagi, keduanya datang ke Desa Ireng-ireng, menemui Ki Ireng-ireng, ayahnya. Mereka kemudian menyampaikan maksud keinginannya agar ada sebuah pasar di Desa Seneng. jawaban menggembirakan didapat, bahwa hal tersebut bukanlah hal yang sulit.

“Cabutlah Pohon Ringin hijau itu, kemudian tanam di Gunungkidul, caranya, bilang saja kalau itu permintaan saya,” perintah Ki Ireng-ireng kepada Demang Seneng menantunya. Tanpa pikir panjang ia mencabut satu pohon kemudian dilemparlah pohon tersebut seraya berucap sesuai perintah sang ayah.

Isi ucapan tersebut yaitu, ‘pohon beringin jangan pernah jatuh kecuali jatuh dan tertanam di sebelah barat Pasar Desa Seneng’. maka setelah dilempar, tertancaplah pohon beringin itu di lokasi yang sekarang dikenal dengan Pasar Kawak, di Padukuhan Seneng.

Setelah bertahun-tahun dimanfaatkan sebagai tempat berjualan, hati Roro Ireng-ireng kembali bersedih. Kesedihannya ia sampaikan kepada sang suami, Demang Seneng. Ia belum merasa puas karena pasar belum seramai yang diharapkan, sehingga mereka berdua kembali berupaya.

Maka, keduannya kembali pergi ke kediaman orang tuanya, sesampainya disana disampaikan maksud dan tujuannya, yakni agar pasar menjadi ramai. Lalu Ki Ireng-ireng menyarankan agar mendatangi Eyang Ki Sunan Solo.

Berangkatlah mereka, setelah sampai di sana perihal kedatangannya disampaikan, diperintahlah Demang Seneng untuk mencabut Ringin putih lalu kemudian disuruh melempar lagi, tentu saja dengan doa dan munajat, “Jangan sampai jatuh kecuali jatuh di sebelah timur Pasar Desa Seneng,” begitu kira-kira bunyi permohonan yang dilontarkan Demang Seneng sesuai penturan Darso saat mengisahkan.

Komentar

Komentar