Sabtu Sunyi Sebagai Refleksi Kefanaan

oleh -
Simbol kesunyian Ibadah Sabtu Sunyi di GKJ Wonosari. KH/ Kandar
iklan dispar
Simbol kesunyian Ibadah Sabtu Sunyi di GKJ Wonosari. KH/ Kandar
Simbol kesunyian Ibadah Sabtu Sunyi di GKJ Wonosari. KH/ Kandar

WONOSARI, (KH)— Menjadi bagian dalam rangkaian ibadah Paskah, umat Kristiani melaksanakan ibadah Sabtu Sunyi. Seperti di GKJ Wonosari, ribuan umat melaksanakan ibadah yang juga disebut Sabtu Suci atau Sabtu Sepi tersebut dengan khidmat.

Pendeta Dwi Wahyu Prasetyo MAPS sebelum dimulainya ibadah ketika ditemui mengatakan, Sabtu Sunyi merupakan satu pengharapan agar umat dapat merefleksikan bagaimana makna kesendirian.

“Meski dalam ketidakberdayaan, manusia mestinya tetep punya pengharapan dalam hidup,” katanya, Sabtu, (26/3/2016).

Hidup didunia ini, lanjut dia, tanpa adanya keyakinan kepada Tuhan, kebanyakan manusia menjadi semakin hancur dan semakin rusak, orang semakin ingin menghancurkan orang lain. Karena mereka tidak punya pengharapan, meski mereka tahu adanya Tuhan tetapi mereka tidak menggantungkan adanya Tuhan.

“Tujuannya agar jemaat semakin sadar akan kefanaannya, bahwa memang hidup bergantung kepada Tuhan,” kata dia lagi. Dalam tradisi gereja, praktik Sabtu Sunyi adalah dengan menutup mimbar dan perlengkapan liturgi yang lain dengan kain berwarna hitam atau menyingkirkan semua perlengkapan liturgi sebagai simbol kesunyian.

Ibadah yang identik dengan suasana gelap tersebut dimulai pada pukul 18.00 WIB, disampaikan pula bahwa pada Minggu, (27/3), merupakan puncak ibadah Paskah/ suka cita. (Kandar)

Komentar

Komentar