Komisi XI DPR RI: Pemuda Gunungkidul Jangan Berhenti Belajar Dan Terus Bangun Daerah

oleh -
Kunjungan anggota DPR RI Komisi XI di Griya Cikelat Nglanggeran. foto: istimewa.
kadhung tresno
Kunjungan anggota DPR RI Komisi XI di Griya Cikelat Nglanggeran. foto: istimewa.

PATUK, (KH),– Rombongan anggota Komisi XI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia(DPR RI) Rabu, (26/9/2018) kemarin mengunjungi Griya Cokelat di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Gunungkidul.

Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PDI-P, Hari Purnomo mengatakan, kunjungan yang dilakukan dalam rangka melihat program kegiatan sosial masyarakat yang didmpingi Bank Indonesia (BI) khususnya hasil pengembangan usaha pertanian coklat di Desa Nglanggeran.

“Kami perlu mendengar apa yang menjadi pengalaman serta kendala yang dialami dalam menjalankan program kemitaraan,” ujarnya.

Hari Purnomo berpesan agar warga desa terus berupaya dalam membangun daerah dan terus belajar untuk mendapatkan pengetahuan teknologi. Baik dalam hal pengolahan cokelat atau teknologi pertanian yang lain dalam mengembangkan usaha pertanian yang sudah ada demi meningkatkan taraf hidup.

“Kepada para pemuda Gunungkidul tidak boleh berhenti belajar. Terus berupaya tingkatkan produksi produk lokal. Apabila bergerak di sektor Pariwisata maka yang penting adalah pelayanan,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Banggar DPR RI Komisi XI dari Partai Golkar, Ahmad Nur Supit menilai, Gunungkidul yang awalnya miskin setelah mendapat sentuhan pembangunan sekarang tampak maju.

Menurutnya, Indonesia harus dibangun mulai dari desa. Adapun untuk memacu proses percepatan pembangunan diharapkan semua kementrian dan lembaga dapat langsung mengucurkan dana ke desa.

“Masyarakat di daerah harus selalu kompak agar pembangunan dapat berjalan lancar,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, anggota kelompok Tani Padukuhan Nglanggeran, Hadi Purwanto mengajukan usulan agar warga penanam cokelat mendapat dukungan berupa tempat pengolahan bubuk cokelat.

“Selama ini kami masih pinjam tempat untuk melaksanakan pengolahan,” keluh Hadi Purwanto. (Kandar)

Komentar

Komentar