Kisah Beberapa Pendatang Tionghoa Perintis Usaha Perdagangan di Wonosari

oleh -
Perkembangan pertokoan di Jl Sumarwi Wonosari. KH/Kandar
iklan dispar
Perkembangan pertokoan di Jl Sumarwi Wonosari. KH/Kandar
Perkembangan pertokoan di Jl Sumarwi Wonosari. KH/Kandar

WONOSARI, (KH) — Perkembangan pertokoan di ibu kota Kabupaten Gunungkidul hingga saat ini dapat terlihat di kanan-kiri jalan protokol seputar Kota Wonosari. Marak berbagai toko yang menyediakan berbagai kebutuhan masyarakat, Ada kebutuhan pokok berupa pangan dan sandang, demikian pula kebutuhan barang sekunder atau tersier seperti elektronik, otomotif, aneka kuliner, serta aneka penyedia jasa lainnya.

Selain dimiliki para penduduk lokal yang telah tinggal sebelumnya, di seputar jantung Kota Wonosari banyak pertokoan yang dimiliki warga pendatang terutama dari kalangan peranakan Tionghoa. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun KH, beberapa di antaranya ternyata telah memulai berdagang sejak sekitar tahun 1950-an. Mereka memulai menjalankan usahanya, lalu memutuskan untuk menetap bermukim di Gunungkidul.

KH melakukan penelusuran terhadap pelaku bisnis perdagangan yang dijalankan warga Tionghoa. Mereka mengaku pada awalnya memulai usaha benar-benar dari bawah dengan kondisi yang memprihatinkan. Seperti Hartati, pemilik Toko Onderdil Mobil “Murah” di Jl. Sumarwi ini datang ke Gunungkidul sekitar tahun 1953-1954.

Ia datang dari Solo, lalu membuka warung kelontong di sekitar toko templek (toko yang menempel di Pasar Argosari). “Belum ada listrik, masih pakai senthir (lampu minyak). Sekitar pasar dahulu masih lebat banyak pohon Waru,” kenangnya.

Ia menyebut masa itu sebagai zaman penderitaan. Jumlah penjual di pasar baru ada sekitar 20-an pedagang. Hasil berjualan juga masih sangat sedikit, karena masih sepi pembeli. Toko templek atau kios itu berukuran 2×3 m, yang sekaligus digunakannya untuk tidur.

Perempuan yang lahir di Solo dengan keturunan dari ibu yang berasal dari negeri China dan ayahnya dari Klaten itu kini telah berusia 80 tahun.

“Toko dengan nama ‘Toko Murah’ kini diteruskan anak saya. Sekitar tahun 1970-an kami merintisnya dengan dagangan yang berbeda yakni spare part kendaraan,” katanya beberapa waktu lalu.

Komentar

Komentar